WELCOME TO FOREST CONSERVATION

SAVE OUR FOREST
WILL
SAVE OUR WORLD

SAVE OUR FOREST
FOR
A BETTER FUTURE

Selasa, 29 September 2009

Macan Kumbang

Macan kumbang atau macan tutul jawa atau harimau hitam (panthera pardus melas) adalah salah satu sub spesies dari macan tutul yg hanya ditemukan di hutan tropis pegunungn dan kawasan konservasi di pulau jawa.
Macan kumbang berukuran besar dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam,mempunyai warna bulu hitam dan mempunyai bintik-bintik gelap bentuk kembangan.
Macan kumbang adalah hewan yg soliter,kecuali saat musim berbiak,macan kumbang satu-satunya kucing besar yg masih tersisa di pulau jawa,sebagian besar populasinya ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Dalam IUCN Red List macan kumbang termasuk kategori terancam punah dan di Cites masuk dalam Appendix I,di indonesia dilindungi menurut UU no 5 tahun 1999 dan PP No 7 tahun 1999.

Ciri-ciri kawasan konservasi

1. Keunikan ekosistemnya.
2. Sumberdaya fauna langka.
3. Keanekaragaman jenis flora.
4. Panorama atau ciri geofisik yg memiliki nilai estetika dan wisata.
5. Fungsi hidrologi

Minggu, 07 Juni 2009

pemetaan

Kartografi adalah ilmu dan teknik pembuatan peta. Dalam kaitannya dengan survei arkeologi, pembahasan mengenai kartografi pada bab ini tidak langsung dikaitkan dengan ilmu dan teknik pembuatan peta, tetapi lebih berkaitan dengan pemanfaatan peta yang sudah dipublikasikan untuk kepentingan survey. Peta dapat diklasifikasikan menurut jenis, skala, fungsi, dan macam persoalan (maksud dan tujuan). Ditinjau dari jenisnya peta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis. Peta foto adalah peta yang dihasilkan dari mosaik foto udara / ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda Peta ini meliputi peta foto yang sudah direktifikasi dan peta ortofoto. Adapun peta garis adalahpeta yang menyajikan detil alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan Peta ini terdiri atas peta topografi dan peta tematik.
Pemetaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perencanaan pengelolaan suatu areal karena dasar dari pengelolaan yang baik adalah menganal dan mengetahui semua potensi yang ada pada areal kelolaan guna pemanfaatannya. Dalam pemetaan guna perencanaan manajemen suatu areal, dikenal dua tahap pokok yaitu menginterpretasikan melalui foto udara dan pengecekkan di lapangan melalui pengukuran/ penyipatan datar atau penyipatan ruang. Dua tahap ini bersifat saling menunjang dan melengkapi karean bila kita hanya memetakan suatu areal melalui foto udara saja maka peta areal yang kita dapatkan nantinya adalah belum teapt benar(tidak sesuai dengan kenyataan). Ketidaktepatan tersebut disesbabkan oleh ketidakvalidan dalam menginterpretasi foto udara yang dalam pelaksanaannya banyak memasukkan unsur kemampuan subyek/interprener dalam menganalisa foto udara tersebut. (Sahid,2008)
Alat-alat yang biasa digunakan dalam pengukuran lapangan guna pemetaan adalah sebagai berikut :
• Kompas klinometer
• GPS (Global Positioning System)
• Rambu/jalon
• Waterpass/theodolite/BTM(Boussole Tranche Montagne)
• Pita ukur
• Statif dan unting-unting
• Payung(peneduh instrumen),dan lain-lain.( Sahid, 2008)
Untuk pekerjaan-pekeraan yang memerlukan ketelitian dipergunakan theodolite, sedangkan untuk pemetaan hutan cukup dipakai BTM. Yang diukur untuk kepentingan pembuatan peta adalah sudut horisontal, sudut vertikal, dan jarak. Sudut horisontal dapat berbentuk azimut bearing, sudut dalam dan sudut luar. Azimut dari suatu garis di atas bumi adalah sudut horisontal yang diukur dari bidang meridian ke bidang vertikal yang memuat garis tersebut. Azimut menentukan arah garis terhadap meridian dan biasanya diukur dalam arah utara atau arah selatan. Untuk memetakan daerah yang kecil (sempit) biasanya azimut dihitung dari arah utara. Pada pengukuran tidak selalau harus diukur azimuthnya. Bila pengukuran digunkaan alat theodolite maka azimutnya diukur pada titik permulaan untuk menentukan arah garis sebagai pengikat. Selanjutnya diukur adalah sudut dalam yaitu sudut apit dari dua arah yang bertemu pada titik sudut tersebut. (Kamsilam,1990)
Poligon adalah seri dari garis-garis yang berhubungan dengan panjang tertentu yang dihubungkan satu sama lain oleh sudut yang diketahui. Panjang garis-garis terssebut ditentukan dari pengukuran jarak horisontal atau jarak yang diperoleh ari pengukuran kelerengan yang sudah dirubah menjadi jarak horisontal. Sudut poligon dapat berupa sudut dalam maupun sudut luar. Hasil pengukuran di lapangan akan berupa garis yang panjangnya diketahui engan azimut atau bearing yang diketahui. Panjang garis yang dimaksudkan adalah panjang / jarak horisontal, sedangkan azimut atau bearing dpat berupa azimut/bearing magnetis atau azimut/bearing sesungguhnya. Poligon terbagi menjadi dua yaitu poligon terbuka dan poligon tertutup. Poligon terbuka yaitu poligon yang dimulai dari titik yang kedudukan horisontalnya diketahui dan berakhir pada titik yang tidak diketahui kedudukan horizontalnya. Yang pertama disebut poligon terikat tidak sempurna dan yang kedua disebut poligon terikat sempurna. Poligon tertutup adalah poligon yang dimulai dari titik tertentu dan kembali ke titik tersebut. Titik tersebut merupakan titik yang sudah diketahui kedudukan horisontanya maupun titik yang belum diketahui kedudukan horisontalnya. Poligon terbuka tidak dapat dicek kebenarannya sedangkan poligon tertututp dapat disek kebenarannya. Pada poligon tertutup jumlah semua sudut harus memenuhi ketentuan :
Jumlah sudut poligon = (n-20) x 180o
bila jumlah sudut yang diukur di lapangan tidak sesuai dengan rumus di atas maka harus diadakan koreksi. Pengkuran poligon dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana misalnya kompas, pita ukur, dan untuk lahan miring digunakan pengukur sudut. Untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi perlu dipakai theodolite , waterpass, atau BTM. Setelah pengukuran di lapangan selesai , hasil pengukuran kemudian diolah dan diadakan perhitungan-perhitungan sehingga hasilnya dapat digambarkan dalam bentuk peta. Koreksi didakan dengan menggambar poligon utama dengan skala dua kali skala yang akan digunakan untuk penggambaran peta dengan maksud agar apabila ada kesalahan segera dapat diketahui.( Kamsilam,1990)
Secara umum interpolasi dapat didefinisikan sebagai penetuan nilai suatu besaran berdasarkan besaran lain yang sudah diketahu nilainya, dimana letak dari besaran yang akan ditentukan tersebut di antara besaran yang akan ditentukan tersebut i antara besaran yang seudah diketahui (Waindo, 2007 dalam Anonim 2008)). Dalam interpolasi , hubungan antara titik-titik acuan tersebut didekati dengan menggunakan fungsi yang disebut fungsi interpolasi. Dengan demikian dalam interpolasi akan melibatkan dua tahap pokok yaitu : 1. penentuan fungsi interpolasi berdasar data acuan , 2. menentukan nilai dari besaran antara. Dalam kehidupan sehari-hari teknik interpolasi banyak dipergunakan. Sebagai contoh, bila membaca kecepatan kendaraan dari speedometer yang menunjukkan angka di antara dua strip, maka secara otomatis akan memperkirakan harga tersebut berdasarkan dua strip di dekatnya. Sensus data yang hanya ada sekitar 10 tahun sekali dan menginginkan data kependudukan pada tahun antaranya maka pendekatan interpolasi secara otomatis akan dilakukan.(Anonim,2008)


Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. Dalam pembahasan selanjutnya, SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan . SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya. Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute).(www.google.com \materi pemetaan.htm)

Sistem Informasi Geografis

Perencanan dan pengelolaan sumberdaya hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu diperlukan informasi yang memadai yang bisa dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Positioning Sistem (GPS) merupakan tiga teknolgi spasial yang berguna.Semakn rumitnya proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan hutan membuat kebutuhan akan informasi semakin esensial. Informasi bisa dilihat sebagai input asar dari perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi. Tidak adanya dan tidak layaknya informasi bisa berakibat fatal pada proyek dan program kehutanan.Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan .

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya. SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute).(www.google.com \materi pemetaan.htm).

Peta merupakan penyajian secara grafis dari kumpulan data yang mentah maupun yang telah dianalisis atau informasi sesuai dengan lokasinya. Dengan kata lain, peta adalah bentuk sajian informasi spasial mengenai permukaan bumi untuk dapat dipergunakan dalam pembuatan keputusan. Supaya bermanfaat suatu peta harus dapat menampilkan informasi secara jelas, mengandung ketelitian yang tinggi walaupun tidak dihindari harus bersifat selektif dengan mengalami pengolahan biasanya terlebih dahulu ditambah dengan ilmu pengetahuan agar lebih dapat dimanfaatkan langsung oleh pengguna.

Selasa, 05 Mei 2009

Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran Kura-kura dan Penyu

Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.

  1. Anak bangsa Pleurodira
  • Chelidae, kura-kura leher ular

Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.

Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)

  • Pelomedusidae

Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.

2. Anak bangsa Cryptodira

  • Cheloniidae, penyu

Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.

Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
Penyu hijau (Chelonia mydas)
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

  • Dermochelyidae, penyu belimbing

Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.

  • Chelydridae

Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.

  • Kinosternidae

Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.

  • Dermatemyidae

Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.

  • Carettochelyidae, labi-labi moncong babi

Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.

  • Trionychidae, labi-labi

Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia adalah:
Bulus (Amyda cartilaginea)
Manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra)
Labi-labi hutan (Dogania subplana)
Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
Antipa, labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)

  • Emydidae

Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk hewan introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta)

  • Geoemydidae

Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya:
Biuku (Batagur baska)
Beluku atau tuntong (Callagur borneoensis)
Kuya batok (Cuora amboinensis)

  • Testudinidae, kura-kura darat sejati

Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
Baning sulawesi (Indotestudo forsteni)
Baning coklat (Manouria emys)

3. Anak bangsa Paracryptodira

punah

Sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu