WELCOME TO FOREST CONSERVATION

SAVE OUR FOREST
WILL
SAVE OUR WORLD

SAVE OUR FOREST
FOR
A BETTER FUTURE
Tampilkan postingan dengan label satwa liar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label satwa liar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Februari 2010

LUTUNG JAWA ( Trachypithecus auratus )

1. Klasifikasi
• Kingdom : Animalia
• Sub Kingdom : Metazoa
• Phyllum : Chordata
• Sub Phyllum : Vertebrata
• Classis : Mamalia
• Sub Classis : Theria
• Ordo : Primata
• Sub Ordo : Antropidea
• Familia : Ceroopithecidae
• Genus : Trachypithecus
• Spesies : Trachypitechus auratus

2. Morfologi
Lutung budeng atau dalam nama ilmiahnya Trachypithecus auratus adalah sejenis lutung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Lutung budeng memiliki rambut tubuh berwarna hitam. Dan seperti jenis lutung lainnya, lutung ini memiliki ekor yang panjang, sekitar 87cm.
Jantan dan betina biasanya berwarna hitam, namun betina memiliki warna putih kekuningan di sekitar kelaminnya. Lutung muda memiliki rambut tubuh berwarna oranye. Ada dua subspesies dari Lutung Budeng, yang dibedakan dari daerah sebarannya. Subspesies utama, T. a. auratus memiliki ras yang langka, di mana lutung dewasa memiliki warna rambut seperti lutung muda yang berwarna oranye, namun warnanya lebih gelap sedikit dengan ujung kuning.
Lutung mempunyai berat rata-rata sekitar 6,3 kg – 7 kg. mempunyai bentuk ibu jari yang besar, morfologi telapak tangan berupa segitiga, dan datar merupakan adaptasi lutung terhadap habitat sehingga mampu hidup di pohon.
3. Perilaku
Lutung Budeng adalah hewan diurnal, yang lebih aktif pada waktu siang hari di atas pepohonan. Makanan pokoknya terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Memakan dedaunan, buah-buahan dan bunga. Spesies ini juga memakan larva serangga.
Lutung Budeng hidup berkelompok, yang dalam satu kelompoknya terdiri dari sekitar tujuh ekor lutung, termasuk satu atau dua ekor lutung jantan dewasa. Lutung betina biasanya hanya mempunyai satu anak setiap melahirkan dan saling bantu membesarkan anak-anak lutung. Namun lutung betina juga bersifat sangat agresif terhadap lutung betina dari kelompok lain.

4. Status Dilindungi
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 733/kpts-II/1999 tentang penetapan lutung ( Trachypithecus auratus ) sebagai satwa yang dilindungi.
Sedangkan menurut IUCN (international Union for Conservation of Nature) masuk dalam kategori Vulnurable atau rentan, sedangkan menurut CITES masuk dalam Appendix II. Spesies ini dianggap Rentan ( vulnerable ) karena masa lalu dan populasinya terus menurun, diperkirakan lebih dari 30% selama 36 tahun (3 generasi, generasi diberikan panjang 12 tahun), sebagai akibat penangkapan untuk perdagangan hewan ilegal, perburuan , dan hilangnya habitat.

Lutung dapat dijumpai di mangrove, hutan rawa-rawa, dataran rendah, hutan perbukitan, hutan musim yang kering, dan hutan pegunungan hingga ketinggian 3000-3500 mdpl. Selain itu juga ditemui di hutan tanaman jati, rasamala dan akasia.
Menyukai makanan berupa dedaunan, bunga, biji dari buah. Di dieng, jawa tengah, lutung ditemukan di hutan primer maupun hutan sekunder, di tepian, maupun diatas kanopi. Daerah jelajah lutung sekitar 20 -30 ha dan mungkin bisa lebih besar di pulau jawa.
Spesies ini endemic di Indonesia tepatnya di pulau jawa, dan pulau-pulau kecil seperti bali, lombok, nusa barung, dan pulau sempu. Di pulau lombok populasi lutung dikarenakan terjadi introduksi oleh manusia. Species ini terdapat di Jawa Timur, Bali, Lombok, Palau Sempu dan Nusa Barung. Subspesies ini memiliki dua morphs, salah satunya, morph merah, memiliki distribusi terbatas antara Blitar, Ijen, dan Pugeran, Jawa (Groves 2001). Morph lain adalah lebih umum dan ditemukan di Jawa timur, barat ke Gunung Ujungtebu (Brandon-Jones 1995).

Selasa, 29 September 2009

Macan Kumbang

Macan kumbang atau macan tutul jawa atau harimau hitam (panthera pardus melas) adalah salah satu sub spesies dari macan tutul yg hanya ditemukan di hutan tropis pegunungn dan kawasan konservasi di pulau jawa.
Macan kumbang berukuran besar dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam,mempunyai warna bulu hitam dan mempunyai bintik-bintik gelap bentuk kembangan.
Macan kumbang adalah hewan yg soliter,kecuali saat musim berbiak,macan kumbang satu-satunya kucing besar yg masih tersisa di pulau jawa,sebagian besar populasinya ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Dalam IUCN Red List macan kumbang termasuk kategori terancam punah dan di Cites masuk dalam Appendix I,di indonesia dilindungi menurut UU no 5 tahun 1999 dan PP No 7 tahun 1999.

Selasa, 05 Mei 2009

Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran Kura-kura dan Penyu

Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.

  1. Anak bangsa Pleurodira
  • Chelidae, kura-kura leher ular

Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.

Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)

  • Pelomedusidae

Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.

2. Anak bangsa Cryptodira

  • Cheloniidae, penyu

Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.

Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
Penyu hijau (Chelonia mydas)
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

  • Dermochelyidae, penyu belimbing

Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.

  • Chelydridae

Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.

  • Kinosternidae

Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.

  • Dermatemyidae

Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.

  • Carettochelyidae, labi-labi moncong babi

Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.

  • Trionychidae, labi-labi

Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia adalah:
Bulus (Amyda cartilaginea)
Manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra)
Labi-labi hutan (Dogania subplana)
Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
Antipa, labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)

  • Emydidae

Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk hewan introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta)

  • Geoemydidae

Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya:
Biuku (Batagur baska)
Beluku atau tuntong (Callagur borneoensis)
Kuya batok (Cuora amboinensis)

  • Testudinidae, kura-kura darat sejati

Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
Baning sulawesi (Indotestudo forsteni)
Baning coklat (Manouria emys)

3. Anak bangsa Paracryptodira

punah

Sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

Evolusi Kura-kura dan Penyu

Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.

Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.

Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).

Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.

Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan Kep. Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.

Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.

Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.

Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).

Sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

KURA - KURA DAN PENYU

Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya 'rumah' atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.

Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

Minggu, 03 Mei 2009

KEPUNAHAN PADA HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae)

  • Indonesia memiliki tiga sub spesies harimau (Panthera tigris) dari delapan subspesies yang ada di dunia.
  • Tiga sub spesies harimau dunia telah dikategorikan punah di alam dan dua subspesies di antaranya terdapat di Indonesia yaitu harimau Bali (P.t. balica) punah tahun 1930-an dan harimau Jawa (P.t. sondaica) punah tahun 1980-an (Ramono & Santiapillai 1994; Seidensticker et al. 1999).
  • Harimau sumatera (P.t. sumatrae) merupakan satu-satunya sub spesies harimau yang masih bertahan hidup di Indonesia.
  • Hasil suatu penilaian pada tahun 1992 melaporkan bahwa penyebaran populasi harimau sumatera hanya terdapat pada 26 kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya yang terpisah secara geografis yang mana jumlah populasi di alam diperkirakan tinggal 400-500 ekor (Ministry of Forestry 1994).
  • Akan tetapi saat ini, angka populasi tersebut dipastikan semakin berkurang
  • IUCN (2006) telah mengategorikan harimau sumatera dalam status "critically endangered" atau satwa langka yang kritis yaitu kategori tertinggi dari
    ancaman kepunahan.
  • Di Indonesia, pemerintah telah melindungi harimau
    sumatera yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999
    tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

    Penyebab Kepunahan

  • hilangnya habitat harimau Sumatera akibat konversi hutan
  • perburuan harimau sumatera
  • Berkurangnya spesies mangsa
  • angka kelahiran rendah,
  • Angka kematian bayi cukup tinggi,
  • Tingkat ancaman tinggi

    Upaya pelestarian yang efektif memerlukan informasi yang akurat diantaranya, yaitu :

  • ukuran populasi pada suatu wilayah,
  • distribusi geografi jenis
  • konektivitas antar kawasan,
  • aspek ekologi dan biologi spesies.

    Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui habitat yang sesuai, ukuran populasi dan ancaman untuk menyusun suatu strategi pelestarian jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang pada suatu kawasan.

    Solusi

  • meminimalisasi kerusakan habitat, dengan cara/ mengurangi konversi lahan
  • adanya kontrol terhadap perburuan liar dan perdagangan illegal serta mempertegas hukum tentang pelarangan perburuan liar dan perdagangan illegal terhadap harimau dan mangsanya
  • perluasan habitat, dengan membangun koridor satwa
  • Monitoring terhadap perkembangan populasi yang masih bertahan


     

    Sumber :

    Kuliah riset


     


     


 

Senin, 27 April 2009

Kategori-kategori Focal species

  • Spesies-species yang mempunyai peran fungsional dalam sistem ekologis sehingga keberadaannya dan trend statusnya berpengaruh pada kondisi sistem ekologi tempat ia berada.

Penyempurnaan konsep spesies payung, dengan pendekatan multispecies yang ditetapkan dengan prosedur yang sistematis dalam pemilihan spesies-spesies payung


 

  1. Species indikator:

    suatu makhluk hidup yang dapat digunakan sebagai penciri untuk mengukur kondisi spesies lain atau lingkungan tertentu yang diinginkan.

  • Indikator deteksi dini adanya tekanan terhadap sebuah sistem ekologi.

(2) Species Payung: suatu species yang membutuhkan habitat yang sangat luas, sehingga perlindungan thd species tsb, akan melestarikan juga species lain yang berada di habitat yang sama namun kebutuhan habitatnya lebih sempit

(3) Species kunci: suatu species yang mempunyai pengaruh yang signifikan thd satu atau lebih proses ekologis kunci.

  • Tropic-link species: suatu species yang menguasai suatu posisi kunci dalam jaring-jaring makanan dan perpindahan materi dan energi antar tingkatan trophic.
  • Perekayasa ekologi: suatu species yang secara langsung atau tidak langsung mengontrol ketersediaan sumberdaya untuk makhluk lain dengan mempengaruhi kondisi fisik dari bahan-bahan biotis maupun abiotis.
  • Species Bendera: suatu species yang digunakan sebagai maskot program konservasi, karena mampu menggugah ketertarikan atau simpati masyarakat..


 

Daftar Pustaka :

Kuliah Pengelolaan Kawasan Konservasi Mas Hero

Minggu, 22 Maret 2009

Rusa Bawean ( Axis kuhlii )






rusa bawean
rusa bawean


Rusa bawean ( Axis kuhlii ) adalah satwa nmenyusui dan merupakan salah satu dari empat jenis rusa di indonesia. tiga jenis rusa lainya adalah rusa sambar ( Cervus unicolor ), rusa timor ( Cervus timorensis ), rusa kijang ( Muntiacus muntcjak).


Rusa bawean diperkirakan berasal dari nenek moyangnya hog deer ( Axis porcinus) yang diperkenalkan oleh pedagang-pedagang eropa. Hog deer merupakan marga terdekat rusa bawean yang terdapat di dataran asia tenggara dan calamian deer ( Axis calamian) yang terdapat di pulau calamian, Filipina.


DESKRIPSI MORFOLOGIS







rusa bawean2
rusa bawean2
tinggi 60-70 cm, tinggi tumit kurang dari 0,32 m, panjang badan 105-115 dengan berat badan kurang lebih 50 kg. Umur sapih +/- 8 bulan., umur kelamin dewasa kurang lebih 2 tahun. lama hidup rusa bawean dapat mencapai 40 tahun. selain ciri-ciri itu, terdapat juga ciri-ciri istimewa adalah mempunyai gigi taring pada rahang bawahnya, ekor berambut sikat dengan warna coklat pada bagian atasnya dari pangkal ekornya dan warna putih pada bagian bawah dari ujung ekor.


bulu rusa bawean berwarna coklat kecuali bagian leher dan sekitarnya berwarna putih terang. bahu bagian depan lebih rendah dari bagian belakang sehingga terkesan merunduk seperti kijang. pada anak rusa sering terdapat totol - totol yang dalam waktu singkat akan menghilang.


rusa bawean jantan dewasa mempunyai sepasang tanduk bercabang dan ranggahnya baru tumbuh setelah rusa berumur delapan bulan. cabang ranggah yang ganjil menunjukan bahwa rusa tersebut berumur genap. tanduk tumbuh mulai umur 8 bulan, dimulai dengan tonjolan di samping telinga, kemudia memanjang dan tumbuh lengkap pada umur 20-23 tahun. kemudian tanduk itu akan tanggal dan digantikan oleh sepasang tanduk lain dengan satu cabang. kemudian setrusnya sampai tanduk bercabang tiga yaitu saat berumur tujuh tahun.


musim kawin antara bulan Oktober- November pada umunya berakhir bulan Januari. masa bunting selama 7,5 bulan setelah perkawinan atau 220-235 hari, umumnya anak yang dilahirkan sebanyak dua ekor.


di alam, rusa bawean hidup berkelompok, dengan anggota 2-3 ekor, jarang sampai berpuluh-puluh ekor seperti rusa timor. sifatnya diurnal, yaitu saat panas beristirahat di bawah pohon yang rindang sambil memamah biak.


SEBARAN RUSA BAWEAN







Peta Bawean
PetaBawean-2-1
merupakan rusa endemik di areal kepulauan Indo-Australia, rusa ini merupakan jenis yang paling terisolasi di selruh dunia. Pulau bawean merupakan satu-satunya tempat yang menjadi habitat alami rusa bawean, dan merupakan rusa yang paling langka dan paling terbatas habitatnya di dunia yakni hanya di pulau bawean. Dalam IUCN rusa bawean dikategorikan sebagai endangered.



Sumber :


adawiyah, adah.2006.Tipe pemanfaatn pelindung bagi rusa bawean di kawasan suaka alam pulau bawean.UGM.Yogyakarta


Yuniatun, rosyidah.2007.Studi Habitat Tempat Berlindung Rusa Bawean.UGM.Yogyakarta


www.baungcamp.com


www.bawean.net


www.sakdalah.blogspot.com


43 Things Tags: ,

Kamis, 19 Maret 2009

Burung Raptor

Raptor merupakan istilah yang ditujukan untuk burung pemangsa yang memiliki ciri-ciri beradaptasi dengan berburu mangsa, memiliki cengkeraman kaki yang sangat kuat untuk menagkap mangsa, paruhnya berbentuk seperti kait yang berguna untuk merobek mangsa, mempunyai kemampuan melihat dalam jarak yang cukup jauh dan kemampuan terbang yang baik yang baik dan sangat cepat untuk mengejar mangsa, termasuk di dalam golongan ini, elang, alap-alap, burung hantu, burung nasar.


Umumnya raptor memangsa jenis burung-burung kecil, ular dan jenis mamalia kecil seperti tikus, musang, dan tupai serta ada juga yang memakan lebah dan sarang tawon seperti jenis sikep madu (pernis ptilorhyncus). sedangkan utnuk burung hantu merupakan jenis hewan nokturnal.


perlunya melestarikan raptor karena berdasarkan tingkatan trofik sebagai top predator dalam rantai makanan pada kelompok burung. jika salah satu rantai makanan itu hilang atau punah dan mengganggu kestabilan rantai makanan, sehingga membuat ketidakseimbangan di alam.


bebeapa jenis raptor:







Elang Bondol
255778-Brahminy-Kite-Haliastur-indus-Elang-Bondol-0





alap-alap capung
alap_capung05







elang alap cina
elang_alap_cina15





elang_ular_bido
elang_ular_bido05

Rabu, 18 Maret 2009

Kergaman Fauna TN Batang Gadis

Mamalia







harimau sumatera
harimau
Nama jenis: Harimau Sumatera/Sumatran tiger
Nama latin : Panthera tigris sumatrae
Keterangan:


Harimau Sumatera merupakan satu-satunya dari tiga jenis harimau yang pernah dimiliki Indonesia yang masih bertahan hidup. Dua jenis lainnya, yakni Harimau Jawa dan Harimau Bali, yang baru saja punah. Meski termasuk jenis dilindungi dan masuk dalam Lampiran I CITES, Harimau Sumatera kini dalam kondisi kritis alias nyaris punah. Dua penyebab utama keterancamannya adalah maraknya perburuan, rusak dan terfragmentasi tempat hidupnya.


Nama jenis: Tapir/Malayan tapir





tapir
tapir

Nama latin : Tapirus indicus
Keterangan:


Tapir merupakan jenis satwa yang sangat khas dengan dwiwarna tubuhnya yang hitam dan putih. Tapir merupakan penghuni hutan-hutan primer di Indonesia khususnya di wilayah Sumatera, persebarannya ke arah utara tidak melampaui daerah Danau Toba. Tapir tidak hanya dilindungi dari segi hukum yang berlaku di Indonesia Jenis yang digolongkan IUCN (The World Conservation Union). Sebagai jenis terancam punah, satwa ini juga masuk dalam Lampiran I CITES ((Convention on International Trade in Endangered in Species of Wild Fauna and Flora).


Nama jenis: Kambing hutan/Serow
Nama latin : Naemorhedus sumatrae





kambing_hutan
kambing_hutan

Keterangan:


Pada dasarnya kambing hutan berbeda dengan kambing yang diternakkan, karena kambing hutan merupakan perpaduan antara kambing dengan antelop dan mempunyai hubungan dekat dengan kerbau. Kambing hutan merupakan satwa yang sangat tangkas dan sering terlihat memanjat dengan cepat di lereng terjal yang biasanya hanya bisa dicapai oleh manusia dengan bantuan tali.


Nama jenis: Landak/Porcupine





landak
landak

Nama latin : Hystrix brachyura

Keterangan:


Dengan duri-duri di bagian belakang tubuhnya, landak merupakan jenis mamalia yang unik. Jika terganggu, landak akan menegakkan duri-durinya hingga ia tampak dua kali lebih besar. Landak biasa ditemukan di atas tanah di hutan dataran rendah hingga pegunungan.Untuk berlindung, landak tinggal di lubang yang digalinya. Meski tidak terlalu sulit ditemukan di kawasan usulan TN Batang Gadis, secara global jenis landak yang dilindungi ini tergolong langka dan terancam punah.


Nama jenis: Kucing emas/Asiatic Golden Cat





kucing_emas
kucing_emas

Nama latin : Catopuma temminckii
.
Keterangan:


Kucing langka ini berukuran tubuh cukup besar dengan panjang tubuh total dapat mencapai 1,3 meter dan berat 15 kg. Kucing emas merupakan jenis satwa yang dilindungi dan masuk dalam Lampiran I CITES. Jarang terdokumentasi, namun tim survei keanekaragaman hayati TamanNasional Batang Gadis berhasil ’menjebaknya dalam perangkap kamera.


Nama jenis: Kucing congkok/Leopard cat





kucing_congkok
kucing_congkok

Nama latin : Celis bensalensis

Keterangan:


Semua jenis kucing liar pada umumnya mirip dengan kucing kampung bentuk tubuhnya dan sama-sama mempunyai 28-30 gigi. Ciri yang membedakannya adalah ukuran, panjang ekor dan pola warna. Biasanya tubuhnya berwana kekuningan dengan bintik hitam diseluruh tubuh bagian atas termasuk ekor. Biasanya hidup secara nocturnal (aktif malam hari) dan terestrial, terkadang aktif juga di pepohonan kecil. Makanannya meliputi mamalia kecil dan serangga besar.


Nama jenis: Kijang/Common barking deer





kijang
kijang

Nama latin : Muntiacus muntjak
Keterangan:


Kijang Muntiacus sp. berjalan dengan kepala merendah, punggung agak melengkung dan kaki belakangnyatinggi. Mengangkat tinggi kakinya dari permukaan tanah setiap kali melangkah. Tubuh bagian atas tengguli, agak lebih gelap sepanajng garis punggung; bagian bawah keputih-putihan dan sering berulas abu-abu. Ekor coklat tua di atas dan putib di bawah. Aktif terutama pada siang hari. Makannya meliputi dedaunan muda, rumput-rumputan dan buah-buahan yang jatuh dan biji-bijian.
Amphibi


Nama jenis: Amphibi tak berkaki/Limbless amphibians
Nama latin : Ichtyopis slutinosa

Keterangan:


Satwa ini termasuk dalam sejenis amfibia (katak), narnun tidak mempunyai kaki dan hidup di tanah yang becek di sekitar air atau sungai yang tidak terlalu deras dan berlumpur, kerap disamakan dengan cacing. Kecuali mempunyai mulut dan mata yang jelas, biasanya terdapat garis kuning pada kedua sisi bagian tubuhnya.Satwa ini termasuk satwa purba dan langka.


Nama jenis : Rangkong badak/Rhinoceros hornbill
Nama latin : Buceros rhinoceros

Keterangan:


Rangkong merupakan burung penghuni puncak-puncak kanopi hutan. Dengan bungkal atau ton)olan di kepala yang menyerupai cula badak, maka disebut demikianlah namanya. Terbang dari satu pohon buah ke pohon lain, rangkong ibarat ’petani hutan’ yang menebarkan biji-bijian hutan yang sangat penting untuk regenerasi dan menjamin keberlanjutan ekosistem hutan. Rangkong badak yang merupakan burung penetap dan dilindungi di Indonesia ini, cukup umum diternukan di kawasan Taman Nasional Batang Gadis.


43 Things Tags: ,

Keanekaragaman Hayati dan Keragaman Fauna

Hasil survei singkat keanekaragaman hayati yang dilakukan oleh Cl Indonesia selama kurun waktu kurang lebih satu bulan, telah memperlihatkan bahwa kekayaan hayati di Taman Nasional Batang Gadis cukup tinggi. Beragamnya jenis flora dan fauna yang diternui oleh tim survei, cukup untuk menjadikan alasan bahwa kawasan Batang Gadis ini perlu segera dilindungi, guna menekan laju kepunahan flora dan fauna di Taman Nasional Batang Gadis.

Berdasarkan hasil penelitian flora, dalam petak penelitian seluas 200 meter persegi terdapat 242 jenis tumbuhan berpembuluh (vascular plant) atau sekitar 1% dari flora yang ada di Indonesia (sekitar 25.000 jenis tumbuhan berpembuluh yang ada di Indonesia). Selain itu, diternukan juga bunga langka dan dilindungi yaitu bunga Padma (Rafflesia sp.) jenis baru. Tingginya nilai kekayaan flora di TNBG menjadikan kawasan ini harus segera dilindungi karena masih banyak jenis-jenis tumbuhan yang belum belum diketahui manfaatnya bagi kehidupan manusia sehingga perlu dikaji lebih lanjut. Melalui perangkap kamera dan penelusuran jejak, tim peneliti berhasil menemukan satwa langka yang dilindungi undang-undang dan konvensi internasional, seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopuma temminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitis binturong) beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang (Muntiacus muntjac)dan landak (Hystix brachyura). Selain itu tim survei berhasil menernukan amfibi tak berkaki (Ichtyopis glutinosa) yang merupakan jenis satwa purba dan katak bertanduk tiga (Megophyris nasuta) yang sudah langka dan merupakan jenis yang hanya dapat dijumpai (endernik) di Sumatera.

Jumlah burung di kawasan TNBG yang dapat diternukan sampai saat ini adalah 242 jenis. Dari 242 jenis tersebut, 45 merupakan jenis burung yang dilindungi di Indonesia, 8 jenis secara global terancam punah, 11 jenis mendekati terancam punah, seperti jenis-jenis Sunda groundcuckoo, Salvadori pheasant, Sumatran cochoa. Crested fireback dan March finfoot. Dua jenis burung yang selama ini dikategorikan sebagai 'kekurangan data' (data deficient) oleh IUCN karena sedikitnya catatan, juga diternukan. Dari total jenis burung tersebut 13 merupakan jenis yang dikategorikan sebagai Burung Sebaran Terbatas yang berkontribusi pada terbentuknya Daerah Burung Endernik dan Daerah Penting bagi Burung (DPB). Kawasan TNBG juga merupakan salah satu lokasi transit burung-burung migran yang datang dari belahan burni utara. Bila hutan TNBG tak segera dilindungi maka akan mempercepat kepunahan mereka.

Burung Lophura inornata (salvadori pheasant) dan Pitta schneiderii (schneider's pitta) adalah jenis langka dan endernik untuk Sumatera. Jenis tersebut dapat ditemukan kembali setelah hampir satu abad tidak tercatat dalam Daftar Jenis Burung Sumatera. Jenis burung Carpococcyx radiceus ("Sunda ground-cuckoo) ditemukan kembali untuk kedua kalinya setelah hampir lebih dari satu abad tidak diternukan dalam daftar burung Sumatera. Jenis ini sebelumnya hanya diketahui dari spesimen di museum pada tahun 1912. Pertama kali jenis ini diternukan di Provinsi Bengkulu pada tahun 2000.

Tim survei menemukan 6 jenis burung dari keluarga rangkong (Bucerotidae) atau 60% dari total jenis yang diternukan di Pulau Sumatera, diantaranya Buceros rhinoceros, Rhinoplax vigil dan Aceros undulatus. Kehadiran jenis burung ini menunjukan bahwa hutan tropis Taman Nasional Batang Gadis masih sehat untuk berkembangnya jenis-jenis satwa pemakan buah (frugivor).

Banyaknya jenis-jenis rangkong dapat menjadi indikasi bahwa kondisi hutan alam di TNBG masih baik dan masih terdapat hubungan mutualistik (saling menguntungkan.) yang relatif utuh antara jenis satwa penyebar biji tumbuhan dengan jenis tumbuhan tropis. Di hutan tropis, agen perantara dalam penyebaran biji tumbuhan urnumnya dilakukan oleh satwa pemakan buah dan ini menjadi penting dalam memelihara keanekaragaman hayati dan regenerasi/rehabilitasi hutan secara alami di hutan tropis.

Temuan penting lainnya adalah konservasi mikroba endofitik dari jaringan tumbuhan yang hidup di hutan tropis mandailing Natal. Konservasi mikroba endofitik dari hutan tropis di Indonesia belum pernah dilakukan oleh lembaga manapun. Dalam hal ini, tim survei berhasil mengumpulkan sebanyak 1500 jenis mikroba yang terdiri dari bakteri dan kapang. Saat ini mikroba tersebut disimpan dalam koleksi kultur mikroba Puslit bioteknologi LIPI. Mikroba ini sangat bermanfaat sebagai sumber obat-obatan, bio-fungisida, bio-insektisida serta pupuk bio yang menunjang sektor pertanian maupun sebagai penghasil berbagai jenis hormon dan enzirn yang sangat bermanfaat bagi industri.

Selasa, 10 Maret 2009

Gelatik Jawa


Gelatik Jawa atau Padda oryzivora adalah sejenis burung pengicau berukuran kecil, dengan panjang lebih kurang 15cm, dari suku Estrildidae. Burung gelatik Jawa memiliki kepala hitam, pipi putih dan paruh merah yang berukuran besar. Burung dewasa mempunyai bulu berwarna abu-abu, perut berwarna coklat kemerahan, kaki merah muda dan lingkaran merah di sekitar matanya. Burung jantan dan betina serupa. Burung muda berwarna coklat. Burung ini endemik dari Indonesia dan di alam ditemukan di hutan padang rumput, sawah dan lahan budidaya di Pulau Jawa dan Bali. Sekarang, spesies ini dikenali di banyak negara di seluruh dunia sebagai burung hias. Perilakunya senang berkelompok dan cepat berpindah-pindah. Pakan utama burung ini adalah bulir padi atau beras, juga biji-bijian lain, buah, dan serangga. Burung betina menetaskan antara empat sampai enam telur berwarna putih, yang dierami oleh kedua tetuanya. Spesies ini merupakan salah satu burung yang paling diminati oleh para pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta terbatasnya ruang hidup burung ini menyebabkan populasi gelatik Jawa menyusut pesat dan terancam punah di habitat aslinya dalam waktu singkat. Sekarang telah sulit untuk menemukan gelatik di persawahan atau ladang. Gelatik Jawa dievaluasi Rentan di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendix I
Gelatik Jawa - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas




Attached Files:


Selasa, 03 Maret 2009

Usut Kematian Harimau


Sabtu, 28 Februari 2009 | 07:41 WIB

PEKANBARU, SABTU — Menteri Kehutanan MS Kaban minta Kepolisian Daerah Riau mengusut kematian empat ekor harimau di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Warga tidak boleh membalas dendam dengan membunuh hewan langka itu meski rugi akibat ternak mati dimangsa harimau.

”Harimau memiliki habitat yang jelas. Masyarakat yang mendesak keberadaan hewan itu dengan berbagai alasan. Saya meminta Polri menghukum warga yang menjerat harimau,” ujar Kaban di Pekanbaru, Jumat (27/2).

Dua pekan terakhir empat ekor harimau mati dijerat warga di Kecamatan Pelangiran dan Gaung, Kabupaten Indragiri Hilir. Di Pelangiran, dua harimau dibunuh karena makan ternak warga. Di Gaung, harimau mati dijerat setelah menyerang penjaga kebun, Toni dan Mamat.

Menurut Kaban, warga yang di pinggiran hutan semestinya sadar bahwa areal permukiman mereka merupakan daerah lintasan harimau. Harimau yang keluar dari hutan pasti dipicu oleh kondisi ketiadaan makanan.

”Kalau ada harimau makan ternak, semestinya diberitahukan kepada petugas kehutanan,” kata Kaban. Ia menyatakan, kehutanan di Riau bermasalah akibat belum ada rencana tata ruang dan wilayah yang jelas.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Walhi Riau Johny Setiawan Mundung mengatakan, kematian empat ekor harimau selama dua pekan menunjukkan ketidakmampuan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengantisipasi konflik harimau dan manusia.

”BBKSDA Riau memiliki peta penyebaran harimau. Semestinya disosialisasikan ke masyarakat bahwa permukiman mereka berada di lintasan harimau sehingga ada aturan main yang jelas kalau terjadi konflik,” kata Mundung.

Di Aceh, dalam dua tahun terakhir, sedikitnya delapan orang tewas diterkam harimau saat berada di kebun di tepi hutan. Oleh karena itu, masyarakat membunuh harimau. Tidak sedikit pula harimau yang dipelihara warga atau instansi.

Hal itu diungkapkan Juru Bicara Yayasan Leuser Internasional (YLI) Chik Rini, di Banda Aceh, Jumat. Sebagian besar konflik manusia dengan harimau terjadi di Aceh Selatan dan pantai barat Aceh. Di pantai timur, yang terjadi adalah konflik manusia dengan gajah. ”Kerusakan hutan dan pembukaan lahan perkebunan yang tidak aktif selama masa konflik menjadi salah satu penyebabnya,” kata Rini.

Dalam dua bulan terakhir, dua kali harimau turun ke permukiman warga dan memangsa ternak di Trumon, Aceh Selatan. Warga yang mencoba melepas harimau dari perangkap babi digigit oleh harimau itu.

Berdasarkan catatan YLI, sembilan harimau mati. Dua harimau lain saat ini berada di tangan warga Keude Bakongan dan salah satu instalasi militer di wilayah Aceh Selatan. (SAH/MHD)


www.kompas.com

Senin, 09 Februari 2009

MACAN KUMBANG kembarannya macan tutul

Macan Kumbang atau Macan Tutul Jawa, atau Harimau Hitam, yang dalam nama ilmiahnya Panthera pardus melas adalah salah satu subspesies dari Macan Tutul yang hanya ditemukan di hutan tropis, pegunungan dan kawasan konservasi pulau Jawa, Indonesia.

Seperti Macan Tutul lainnya, Macan Kumbang berukuran besar, dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam. Subspesies ini pada umumnya memiliki bulu seperti warna sayap kumbang yang hitam mengilap, dengan bintik-bintik gelap berbentuk kembangan yang hanya terlihat di bawah cahaya terang. Bulu hitam Macan Kumbang mungkin merupakan hasil evolusi dalam beradaptasi dengan habitat hutan yang lebat dan gelap. Macan Kumbang betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

Macan Kumbang adalah hewan soliter, kecuali pada musim berbiak. Hewan ini lebih aktif berburu mangsa di malam hari. Mangsanya yang terdiri dari aneka hewan biasanya diletakkan di atas pohon.

Macan Kumbang merupakan satu-satunya kucing besar yang masih tersisa di Pulau Jawa. Subspesies ini jika disilangkan dengan Macan Tutul biasa, memiliki anak macan yang berwarna seperti kedua induknya, kuning tutul ataupun hitam.

Sebagian besar populasi Macan Kumbang dapat ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan, penangkapan liar, serta daerah dan populasi dimana hewan ini ditemukan sangat terbatas, Macan Kumbang dievaluasikan sebagai Terancam Punah di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I. Satwa ini dilindungi di Indonesia, yang tercantum di dalam UU No.5 tahun 1990 dan PP No.7 tahun 1999.


sumber: wikipedia

Minggu, 08 Februari 2009

MACAN TUTUL



Macan Tutul atau dalam nama ilmiahnya Panthera pardus adalah salah satu dari empat kucing besar. Hewan ini dikenal juga dengan sebutan harimau dahan. Pada mulanya, banyak orang berpikiran bahwa Macan Tutul adalah hibrida dari Singa dan Harimau. Macan tutul Jawa (P. p. sondaicus) adalah fauna identitas Jawa Barat dan bersama-sama macan tutul kumbang (P. p. melas) adalah jenis terancam punah di Indonesia.

Macan Tutul berukuran besar, dengan panjang tubuh antara satu sampai dua meter. Spesies ini pada umumnya memiliki bulu berwarna kuning kecoklatan dengan bintik-bintik berwarna hitam. Bintik hitam dikepalanya berukuran lebih kecil. Macan Tutul betina serupa, dan berukuran lebih kecil dari jantan.

Daerah sebaran Macan Tutul adalah di benua Asia dan Afrika. Spesies ini mempunyai lebih dari 30 subspesies yang ditemukan di segala macam habitat, mulai dari hutan tropis, gurun, savanah, pegunungan dan daerah pemukiman.

Macan Tutul adalah hewan penyendiri, yang saling menghindari satu sama lain. Spesies ini lebih aktif di malam hari. Karena tingkat kematian anak yang tinggi, betina biasanya mempunyai satu sampai dua anak, yang tinggal bersama induknya sampai macan muda berumur sekitar antara satu setengah sampai dua tahun.

Macan Tutul merupakan pemburu oportunitis, yang menggunakan segala kesempatan untuk mendapatkan mangsanya. Mereka memakan hampir segala mangsa dari berbagai ukuran. Mangsa utamanya terdiri dari aneka hewan menyusui, binatang pengerat, ikan, burung, monyet dan binatang-binatang lain yang terdapat disekitar habitatnya.

Pada umumnya, Macan Tutul menghindari manusia. Namun macan yang kurang sehat, kelaparan atau terluka sehingga tidak dapat berburu mangsa yang biasa, dapat memangsa manusia. Ada peristiwa mengenai seekor Macan Tutul jantan di Rudraprayag memangsa lebih dari 125 jiwa, dan seekor Macan Tutul betina yang disebut "Macan Tutul Panar" memangsa lebih dari 400 jiwa pada awal abad ke-20 di India.

Beberapa subspesies dari Macan Tutul seperti Macan Kumbang dari Indonesia terancam punah, namun secara umum Macan Tutul dievaluasikan sebagai Beresiko Rendah di dalam IUCN Red List.


sumber:

wikipedia

Sabtu, 24 Januari 2009

CIRI DAN JEJAK HARIMAU JAWA SERTA HABITATNYA

Harimau jawa atau javan tiger ( Panthera tigris sundaica ) adalah satwa endemik pulau jawa atau dengan kata lain adalah satwa yang hanya dijumpai di pulau Jawa. Status harimau jawa kini menurut CITES ( Conservation on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora ) menyatakan bahwa keberadaan harimau jawa telah punah pada tahun 1996. Jika pernyataan punah didasarkan pada visualisasi harimau jawa ( Foto maupun Video ) maka berdasarkan foto yang dibuat oleh hoogerwerf pada tahun 1938, selama 2 kali masa hidupnya, maka dengan umur rerata harimau jawa selama 25 tshun maka dapat dikatakan punah pada tahun 1988, bukan pada awal 80-an menurut banyak ahli. Sedangkan apabila kita mengacu pada foto terakhir pada tahun 1957 di Taman Nasional Meru Betiri, walaupun dalam kondisi terbunuh, berarti dengan 2 kali masa hidupnya, didapatkan angka tahun 2007 bahwa harimau jawa dikatakan punah. Selain itu faoto di TNMB tersebut menjadi dasar bagi berbagai pihak bahwa habitat terakhir harimau jawa ada di TN Meru Betiri saja, sehingga dengan pernyataan punah dan habitat terakhir hanya di TNMB menyebabkan banyak peneliti beranggapan bahwa meneliti harimau jawa hanya sia-sia saja, dan penelitian yang dilakukan pun hanya berkutat di TNMB padahal, banyak yang melihat bahwa harimau jawa ditemukan di lokasi lain seperti G. Ijen, G. Slamet , dll. ( terutama penduduk setempat, pecinta alam, pemburu liar). Sehingga keberadaan harimau jawa menjadi “kabur” , sedangkan ancaman pemburuan terhadap satwa ini terus saja terjadi, seperti pernyataan pemburu dalam tulisan Didik Raharyono, menyatakan mereka masih mampu membunuh di atas tahun 1995-an. Sedangkan dalam tulisannya Abdul Hamid menyatakan masih ada sekitar 31 Harimau Jawa terbunuh di tahun 1987. pertanyaan yang timbul kemudian, “ apakah kepedulian kita masih ada terhadap harimau jawa, yang terancam kini? , “ apakah kita hanya terpaku pada pernyataan orang asing yang menyatakan harimau jawa punah, hanya dengan penelitian beberapa bulan , atau tahun, sedangkan masyarakat sekitar hutan yang hidup bertahun- tahun di sekitar hutan masih sering melihatnya, bahkan apakah keyakinan kita kalah dengan keyakinan pemburu yang masih memburu harimau jawa selama bertahun-tahun?”

Akan tetapi masih ada beberapa orang atau organisasi yang menyatakan harimau jawa masih ada, dengan dilakukan penelitian secara terpadu tidak hanya di TNMB, akan tetapi diseluruh jawa, dengan berdasarkan pelaporan masyarakat setempat, dan pemburu yang pernah melihatnya. Penelitian ini unik karena berdasarkan pernyataan bukan ahli, akan tetapi ini menjadi dasar yang kuat karena merekalah yang sehari-harinya berinteraksi dengan harimau jawa.

Berdasarkan penelitian ini didapatkan hasil bahwa persebaran habitat harimau jawa (penelitian hingga tahun 2000 oleh berbagai organisasi ), adalah TN Alas Purwo ( 1997 – 2000), TN Meru Betiri ( 1997-2000), G. Merapi Ungup-ungup ( 1999), Djampit- G. Panataran ( 1999), G. Raung – G. Suket ( 1997-1999), TN Baluran – maelang ( 1998 ), G. Lamongan – G. Argopuro ( 1999), Pulau Sempu ( 1990), G. Arjuno – Tretes ( 1994), G. Wilis ( 1993), G. Lawu ( 1996- 1999), Hutan jati peg. Kendeng Utara- Blora ( 1995), G. Muria ( 1998 ), Gunungkidul (wonosari – trenggalek) (2000), G. Ungaran (1997), Pegunungan Dieng ( 1998), G. Slamet ( 1997-2000), Pulau Nusakambangan ( 1994), Leuweng Santjang ( 1998), TN Ujung Kulon ( 1999-2000). Total 20 lokasi menjadi habitat harimau jawa, penelitian ini diatas tahun 1990-an, walaupun tidak mendapatkan visualisasi harimau jawa, akan tetapi mendapatkan jejak-jejak yang dianggap sebagai jejak harimau jawa. Sedangkan dari penelitian lis (2004) di TN Meru Betiri didapatkan sampel rambut harimau jawa yang setelah dilakukan tes DNA positif milik Harimau Jawa.

Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa memahami jejak dan ciri kehadiran hariamau jawa sangat penting jika kita ingin mengetahui keberadaan harimau jawa maupun habitatnya. Jejak dan ciri yang dapat kita tahu antara lain :

  1. Kotoran / Feaces.

  2. Cakaran.

  3. Jejak tapak kaki.

  4. Suara.

Pengalaman dan pengetahuan peneliti sangat penting bagi keberhasilan penentuan keberadaan dan habitat harimau jawa, jika tidak teliti mungkin bisa saja tertukar dengan jejak macan tutul atau macan kumbang.


DAFTAR PUSTAKA

Raharyono, Didik. 2002. Berkawan Harimau Bersama Alam. Jakarta . The Gibbon Foundation.

Hamid, Abdul. 1992. Karakteristik Habitat Harimau Jawa ( Panthera tigris sondaica). Yogyakarta. Fakultas Kehutanan UGM.

Jumat, 23 Januari 2009

KLASIFIKASI HARIMAU JAWA ( Panthera tigris sondaica )


Klasifikasi atau pengelompokan makluk hidup sangat penting untuk dilakukan, hal inii dikarenakan, untuk mempelajari suatu jenis species tidak hanya mempelajari species itu saja, akan tetapi juga kerabat-kerabat dekat species tersebut, karena bertujuan untuk mengetahui sifat- sifat yang mirip dengan species yang kita teliti, sehingga peneliti dapat lebih mudah dalam membedakan species yang diteliti dengan species yang tidak diteliti, biasanya kesulitan yang dijumpai adalah ketika suatu ciri species yang kita teliti ternyata sangat mirip dengan kerabat dekatnya di suatu tempat yang sama, sehingga jika kita tidak teliti maka akan salah dalam mengidentifikasi. Misalnya : jejak kaki macan tutul ( Panthera pardus ) dengan harimau jawa ( Panthera tigris sundaica ) di Taman Nasional Meru Betiri ( TNMB ). Jika kita tidak teliti dalam membedakannya maka kita akan salah dalam mengidentifikasi karena kedua jenis tapak kakii ini mirip, hanya berbeda panjang dan lebar, serta kuku yang tercetak, apalagi pengamatan kita menemukan jejak yang tidak utuh, misal saat karnivor tersebut melompat atau terpeleset. Sehingga klasifikasi itu sangat penting bagi peneliti, karena dalam mempelajari klasifikasi, kita juga belajar tentang ciri – ciri hewan yang kita teliti.

Ilmu yang mempelajari klasifikasi atau pengelompokan adalah taksonomi. Taksonomi adalah suatu upaya untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi organisme sehingga dapat memudahkan setiap orang yang berbicara tentang struktur – strukutur yang sama. Pengelompokan – pengelompokan ini didasarkan pada persamaan bagian tubuh yang dimiliki hewan tersebut, dari yang bersifat umum menuju ke kesamaan – kesamaan yang bersifat khusus.

Klasifikasi Harimau Jawa ( Panthera tigris sundaica ) :
· Kingdom : Animalia ( hewan )
· Phylum : Chordata (corda dorsalis)
· Subphylum : Vertebrata ( mempunyai tulang belakang)
· Classis : Mammalia ( mempunyai kelenjar susu )
· Ordo : Carnivora ( pemakan daging )
· Famili : Felicidae ( keluarga kucing)
· Subfamili : Machairodonyinae
· Genus : Panthera ( keluarga macan )
1. Species : Panthera tigris
Sub species : Panthera tigris sundaica ( harimau jawa )

DAFTAR PUSTAKA

Raharyono, Didik. 2002. Berkawan Harimau Bersama Alam. Jakarta . The Gibbon Foundation.

Hamid, Abdul. 1992. Karakteristik Habitat Harimau Jawa ( Panthera tigris sondaica). Yogyakarta. Fakultas Kehutanan UGM.


Senin, 19 Januari 2009

TUJUAN PENGELOLAAN SATWA LIAR

Pengelolaan satwa liar yang berhasil sangat ditentukan oleh rumusan tujuan pengelolaan yang jelas. Ini akan menjadi panduan bagi penyusunan rencana pengelolaan beserta kegiatan-kegiatan dan target yang akan dicapai. Kejernihan visi dan pengusaan terhadap masalah dan kebutuhan lokal serta tuntutan dunia internasional merupakan prasyarat utama dalam perumusan goal yang baik dan realistis. Pada garis besarnya goal pengelolaan satwa liar dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama yaitu;

  1. Menjaga keanekaragaman dan kemelimpahan jenis-jenis satwa asli, serta pelestarian habitat-habitatnya. Komitmen ini merupakan goal dengan prioritas yang tertinggi dalam pengelolaan satwa liar. Introduksi jenis-jenis eksotik yang membahayakan kelestarian jenis asli dilarang. Restorasi satwa liar dilakukan pada daerah-daerah sebaran alaminya, apabila terjadi kepunahan lokal atau penurunan populasi yang drastis. Konservasi habitat dan perlindungan satwa dari perburuan liar merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk kelestarian satwa langka atau yang dilindungi.

  2. Memberikan anekaragam kemungkinan bagi masyarakat untuk memanfaatkan dan menikmati keindahan satwa liar. Fokus dari goal ini adalah pemanfaatan satwa liar dan habitatnya yang berasaskan kelestarian baik untuk tujuan pendidikan dan penelitian, wisata alam, fotografi dan pemanenan. Pengaturan harus dilakukan terhadap perburuan yang dilakukan untuk kepentingan ekonomi maupun pemenuhan hobi. Termasuk dalam tujuan ini adalah penangkapan satwa hidup untuk tujuan koleksi kebun binatang dan pendidikan.

  3. Mengusahakan kehidupan yang harmonis antara satwa liar dan manusia. Goal yang ingin dicapai adalah pencapaian keseimbangan kebutuhan satwa liar dan manusia. Kegiatan manusia dapat memberikan dampak yang sangat merugikan bagi kemelimpahan, distribusi dan keanekaragaman satwa liar dan habitatnya. Sebaliknya, satwa liar jarang sekali memberikan dampak yang merugikan pada manusia. Apabila ada, dampak yang merugikan tersebut biasanya berkaitan dengan kerugian ekonomi akibat rusaknya tanaman pertanian, dan dampak terhadap kesehatan manusia.

kuliah riset dan manajeman satwa liar


PENGERTIAN HABITAT

Habitat: Morrison (2002) mendefinisikan habitat sebagai sumberdaya dan kondisi yang ada di suatu kawasan yang berdampak ditempati oleh suatu species. Habitat merupakan organism-specific: ini menghubungkan kehadiran species, populasi, atau idndividu (satwa atau tumbuhan) dengan sebuah kawasan fisik dan karakteristik biologi. Habitat terdiri lebih dari sekedar vegatasi atau struktur vegetasi; merupakan jumlah kebutuhan sumberdaya khusus suatu species. Dimanapun suatu organisme diberi sumberdaya yang berdampak pada kemampuan untuk bertahan hidup, itulah yang disebut dengan habitat.

Tipe Habitat: Habitat tidak sama dengan tipe habitat. Tipe habitat merupakan sebuah istilah yang dikemukakan oleh Doubenmire (1968:27-32) yang hanya berkenaan dengan tipe asosiasi vegetasi dalam suatu kawasan atau potensi vegetasi yang mencapai suatu tingkat klimaks. Habitat lebih dari sekedar sebuah kawasan vegetasi (seperti hutan pinus). Istilah tipe habitat tidak bisa digunakan ketika mendiskusikan hubungan antara satwa liar dan habitatnya. Ketika kita ingin menunjukkan vegetasi yang digunakan oleh satwa liar, kita dapat mengatakan asosiasi vegetasi atau tipe vegetasi didalamnya.

Penggunaan Habitat: Penggunaan habitat merupakan cara satwa menggunakan (atau ”mengkonsumsi” dalam suatu pandangan umum) suatu kumpulan komponen fisik dan biologi (sumber daya) dalam suatu habitat. Hutto (1985:458) menyatakan bahwa penggunaan habitat merupakan sebuah proses yang secara hierarkhi melibatkan suatu rangkaian perilaku alami dan belajar suatu satwa dalam membuat keputusan habitat seperti apa yang akan digunakan dalam skala lingkungan yang berbeda.

Kesukaan Habitat: Johnson (1980) menyatakan bahwa seleksi merupakan proses satwa memilih komponen habitat yang digunakan. Kesukaan habitat merupakan konsekuensi proses yang menghasilkan adanya penggunaan yang tidak proporsional terhadap beberapa sumberdaya, yang mana beberapa sumberdaya digunakan melebihi yang lain.

Ketersediaan Habitat: Ketersediaan habitat menunjuk pada aksesibiltas komponen fisik dan biologi yang dibutuhkan oleh satwa, berlawanan dengan kelimpahan sumberdaya yang hanya menunjukkan kuantitas habitat masing-masing organisme yang ada dalam habitat tersebut (Wiens 1984:402). Secara teori kita dapat menghitung jumlah dan jenis sumberdaya yang tersedia untuk satwa; secara praktek, merupakan hal yang hampir tidak mungkin untuk menghitung ketersediaan sumberdaya dari sudut pandang satwa (Litvaitis et al., 1994). Kita dapat menghitung kelimpahan species prey untuk suatu predator tertentu, tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa semua prey yang ada di dalam habitat dapat dimangsa karena adanya beberapa batasan, seperti ketersediaan cover yang banyak yang membatasi aksesibilitas predator untuk memangsa prey. Hal yang sama juga terjadi pada vegetasi yang berada di luar jangkauan suatu satwa sehingga susah untuk dikonsumsi, walaupun vegetasi itu merupakan kesukaan satwa tersebut. Meskipun menghitung ketersediaan sumber daya aktual merupakan hal yang penting untuk memahami hubungan antara satwa liar dan habitatnya, dalam praktek jarang dilakukan karena sulitnya dalam menentukan apa yang sebenarnya tersedia dan apa yang tidak tersedia (Wiens 1984:406). Sebagai konsekuensinya, mengkuantifikasi ketersediaan sumberdaya biasanya lebih ditekankan pada penghitungan kelimpahan sumberdaya sebelum dan sesudah digunakan oleh satwa dalam suatu kawasan, daripada ketersediaan aktual. Ketika aksesibilitas sumber daya dapat ditentukan terhadap suatu satwa, analisis untuk menaksir kesukaan habitat dengan membandingkan penggunan dan ketersediaan merupakan hal yang penting.

Kualitas Habitat: Istilah kualitas habitat menunjukkan kemampuan lingkungan untuk memberikan kondisi khusus tepat untuk individu dan populasi secara terus menerus. Kualitas merupakan sebuah variabel kontinyu yang berkisar dari rendah, menengah, hingga tinggi. Kualitas habitat berdasarkan kemampuan untuk memberikan sumberdaya untuk bertahan hidup, reproduksi, dan kelangsungan hidup populasi secara terus menerus. Para peneliti umumnya menyamakan kualitas habitat yang tinggi dengan menonjolkan vegetasi yang memiliki kontribusi terhadap kehadiran (atau ketidak hadiran) suatu spesies (seperti dalam Habitat Suitability Index Models dalam Laymon dan Barrett 1986 dan Morrison et al. 1991). Kualitas secara eksplisit harus dihubungkan dengan ciri-ciri demografi jika diperlukan. Leopold (1933) dan Dasman et al. (1973) menyatakan bahwa suatu habitat diaktakan memiliki kualitas yang tinggi apabila kepadatan satwa seimbang dengan sumberdaya yang tersedia, di lapangan pada umumnya habitat yang memiliki kualitas ditunjukkan dengan besarnya kepadatan satwa (Laymon dan Barrett 1986). Van Horne (1983) mengatakan bahwa kepadatan merupakan indikator yang keliru untuk kulitas habitat. Oleh sebab itu daya dukung dapat disamakan dengan level kualitas habitat tertentu, kualitasnya dapat berdasarkan tidak pada jumlah organisme tetapi pada demografi populasi secara individual. Kualitas habitat merupakan kata kunci bagi para ahli restorasi.

Beberapa istilah seperti makrohabitat dan mikrohabitat penggunaannya tergantung dan merujuk pada skala apa studi yang akan dilakukan terhadap satwa menjadi pertanyaan. (Johnson, 1980). Dengan demikian makrohabitat dan mikrohabitat harus ditentukan untuk masing-masing studi yang berkenaan dengan spesies spesifik. Secara umum, macrohabitat merujuk pada ciri khas dengan skala yang luas seperti zona asosiasi vegetasi (Block and Brennan, 1993) yang biasanya disamakan dengan level pertama seleksi habitat menurut Johnson. Mikrohabitat biasanya menunjukkan kondisi habitat yang sesuai, yang merupakan faktor penting pada level 2-4 dalam hierarkhi Johnson. Oleh sebab itu merupakan hal yang tepat untuk menggunakan istilah mikrohabitat dan makrohabitat dalam sebuah pandangan relatif, dan pada skala penerapan yang ditetapkan secara eksplisit.

Niche: Habitat suatu organisme adalah tempat organisme itu hidup, atau tempat ke mana seseorang harus pergi untuk menemukannya. Sedangkan niche (relung) ekologi merupakan istilah yang lebih luas lagi artinya tidak hanya ruang fisik yang diduduki organisme itu, tetapi juga peranan fungsionalnya di dalam masyarakatnya (misal: posisi trofik) serta posisinya dalam kondisi lingkungan tempat tinggalnya dan keadaan lain dari keberadaannya itu. Ketiga aspek relung ekologi itu dapat dikatakan sebagai relung atau ruangan habitat, relung trofik dan relung multidimensi atau hypervolume. Oleh karena itu relung ekologi sesuatu organisme tidak hanya tergantung pada dimana dia hidup tetapi juga apa yang dia perbuat (bagaimana dia merubah energi, bersikap atau berkelakuan, tanggap terhadap dan mengubah lingkungan fisik serta abiotiknya), dan bagaimana jenis lain menjadi kendala baginya. Hutchinson (1957) telah membedakan antara niche pokok (fundamental niche) dengan niche yang sesungguhnya (relized niche). Niche pokok didefinisikan sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang memunkinkan populasi masih dapat hidup. Sedangkan niche sesungguhnya didefinisikan sebagai sekelompok kondisi-kondisi fisik yang ditempati oleh organisme-organisme tertenu secara bersamaan.

Dimensi-dimensi pada niche pokok pada niche pokok menentukan kondisi-kondisi yang menyababkan organisme-organisme dapat berinteraksi tetapi tidak menentukan bentuk, kekuatan tau arah interaksi. Dua faktor utama yang menetukan bentuk interaksi dalam populasi adalah kebutuhan fisiologis tiap-tiap individu dan ukuran relatifnya. Empat tipe pokok dari interaksi diantara populasi sudah diketahui yaitu: kompetisi, predasi, parasitisme dan simbiosis.

Agar terjadi interaksi antar organisme yang meliputi kompetisi, predasi, parasitisme dan simbiosis harusnya ada tumpang tidih dalam niche. Pada kasus simbion, satu atau semua partisipan mengubah lingkungan dengan cara membuat kondisi dalam kisaran kritis dari kisaran-kisaran kritis partisipan yang lain. Untuk kompetitor, predator dan mangsanya harus mempunyai kecocokan dengan parameter niche agar terjadi interaksi antar organisme, sedikitnya selama waktu interaksi.

Landskap: Landskap dapat didefinisikan sebagai suatu kawasan yang heterogen secara spasial yang digunakan untuk mendiskripsikan ciri khas daya tarik (tipe tegakan, tapak, tanah). Masalah serius yang terkait dengan penggunaan istilah landscape adalah landscape biasanya digunakan untuk mengartikan suatu kawasan yang luas (1-100 km2)(Forman dan Gordon, 1986; Davis dan Stoms, 1996). Persepsi landscape untuk satwa kecil berbeda dengan satwa besar. Pengaruh keheterogenan spasial terhadap proses biotik dan abiotik dapat dinyatakan secara virtual dalam beberapa skala spasial, dengan demikian kita tidak menempatkan batasan kawasan dalam pengertian landscape. Meskipun menggambarkan landscape dalam istilah kilometer persegi adalah tepat untuk kegiatan tertententu (seperti menempatkan proyek restorasi dalam konteks suatu kawasan yang luas), menggambarkan landscape dalam istilah meter persegi yang sedikit juga tepat untuk penerapan yang lain (untuk satwa dengan daerah jalajah yang sempit/kecil atau untuk menggambarkan hubungan niche).

Sumberdaya: Semua faktor lingkungan yang memiliki korelasi terhadap distribusi, kelimpahan, kinerja reproduksi suatu species disebut dengan sumber daya (Wiens, 1989a:321). Sumberdaya merupakan faktor abiotik dan abiotik yang digunakan langsung oleh suatu organisme (Morrison, 2002). Perbedaan antara kelimpahan, ketersediaan, dan penggunaan sumber daya harus dibedakan dengan pasti, yang manakah yang secara aktual akan dihitung. Kelimpahan sumber daya merupakan jumlah absolut item (atau ukuran atau volume) dalam suatu area yang ditentukan secara eksplisit, contohnya jumlah satuan pakan dalam 1 ha. Ketersediaan sumber daya merupakan jumlah sumber daya yang secara aktual tersedia untuk satwa (jumlah yang bisa dieksploitasi), contohnya jumlah satuan pakan dalam 1 ha yang mampu dijangkau oleh ungulata. Penggunaan sumber daya merupakan suatu penghitungan jumlah sumber daya yang digunakan secara langsung (dikonsumsi, dipindah) dari suatu kawasan yang ditentukan secara eksplisit, contohnya jumlah satuan pakan dalam 1 ha yang dikonsumsi oleh suatu satwa dalam enam jam periode sampling.


kuliah riset dan menejemen satwa liar

JAVAN TIGER


In the early 19th century Javan tigers (Panthera tigris sondaica) were so common over Java that in some areas the were considered nothing more than pests.

They were driven to the verge of extinction through a rapid increase in human population leading inevitably to a severe reduction in habitat. Forests were felled then converted for agricultural use. Along with this tigers were merciless hunted and poisoned, and they experienced growing competition for prey species with wild dogs and leopards.

Much of the hunting was carried out by natives, a surprising thing since they considered the tiger a reincarnation of their dead relatives.

Javan tiger reserves:

By 1940 the Javan tiger had been pushed into remote mountain ranges and forests. At this stage some small reserves were set up, but these were not large enough and prey species were too low.

Come the mid-1950s only 20-25 tigers remained on Java. Half of these were in the well-known Ujong Kulon Wildlife Reserve, but the 1960s saw all tigers eliminated from this area and also from Baluran National Park.

1972 and the Javan tiger count was down to a maximum of seven in the then newly-formed Meru Betiri Forest Reserve, and perhaps five elsewhere.

Meru Betiri was rugged and considered this tiger's last chance for survival. However, even as it was declared a reserve, the area was under attack by agricultural development. A 1979 census located the tracks of only three tigers. Substantiated evidence that this tiger is still alive has not been forthcoming since then.

The exact time of extinction remains unknown, but this was probably sometime in the 1980s.

Continued sightings of the Javan tiger:

Occasional reports still surface of a few tigers to be found in east Java where the forested areas account for almost thirty per cent of the land surface. Meru Betiri National Park, the least accessible area of the island, is located here and considered the most likely area for any remaining Javan tigers. This park is now coming under threat from three gold mining companies after the discovery of 80,000 tons of gold deposit within the locality.

Despite the continuing claims of sightings it is far more likely that, even with full protection and in reserve areas, the Javan tiger was unable to be saved. The 'tigers' are quite likely to be leopards seen from a distance.

At the present time the World Conservation Monitoring Centre lists this subspecies as having an 'outstanding query over status' rather than extinct, and some agencies are carrying out experiments using infrared activated remote cameras in an effort to photograph any tigers. Authorities are even prepared to initiate the move of several thousand natives should tiger protection require this.

But until concrete evidence can be produced (expert sightings, pug marks, photographic evidence, attacks on people and animals), the Javan tiger must be considered yet another subspecies which is probably lost to mankind.

the javan tiger