WELCOME TO FOREST CONSERVATION

SAVE OUR FOREST
WILL
SAVE OUR WORLD

SAVE OUR FOREST
FOR
A BETTER FUTURE
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEWS. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2009

Hutan Kota Dan Kebisingan

Hutan kota adalah pohon, taman, jalur-jalur hijau dan hutan yang ditanam di lingkungan kota dan sekitarnya yang berguna dan berpotensi sebagai pengelola lingkungan dalam hal ameliorasi, iklim, rekreasi, estetika, fisiologi, psikologi, social, pengelolaan pencemaran, dan kesejahteraan ekonomi masyarakat di perkotaan. (Dahlan, 1991).

Menurut Society of America Forester (SAF) Hutan kota adalah sebidang tanah yang luas minimalnya 0,4 Ha untuk vegetasi pepohonan dengan jarak minimal 10 m dalam komunitas di dalamnya terdiri dari flora dan fauna serta unsure abiotik lainnya dan lokasinya terjangkau pemukiman penduduk kota.

Hutan Kota adalah pepohonan yang berdiri sendiri atau berkelompok atau vegetasi berkayu di kawasan perkotaan yang pada dasarnya memberikan dua manfaat pokok bagi masyarakat dan lingkungannya, yaitu manfaat konservasi dan manfaat estetika.

Sementara dalam hasil rumusan Rapat Teknis Kementerian Kependudukandan Lingkungan Hidup di Jakarta pada bulan Februari 1991, dinyatakan bahwa. Hutan Kota adalah suatu lahan yang tumbuh pohon-pohonan di dalam wilayah perkotaan di dalam tanah negara maupun tanah milik yang berfungsi sebagai penyangga lingkungan dalam hal pengaturan tata air, udara, habitat flora dan fauna yang memiliki nilai estetika dan dengan luas yang solid merupakan ruang terbuka hijau, serta areal tersebut ditetapkan oleh pejabat berwenang sebagai Hutan Kota. Adapun di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota, disebutkan bahwa Hutan Kota adalah suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon yang kompak dan rapat di dalam wilayah Perkotaan, baik pada tanah negara maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai Hutan Kota oleh pejabat yang berwenang.

Menurut Grey dan Deneke dalam Urban Forestry (1986) menyatakan bahwa hutan kota adalah lahan dalam kota yang terdiri dari komponen fisik dengan vegetasi berupa pohon dengan lingkungan yang spesifik.

Menurut Dahlan (1991), Hutan Kota dibagi menjadi 6 tipe, yaitu :

  1. Tipe pemukiman
  2. Tipe kawasan industry
  3. Tipe rekreasi dan keindahan
  4. Tipe pelestarian plasma nutfah
  5. Tipe perlindungan
  6. Tipe pengamanan
  7. Peran Hutan Kota
    1. Fungsi lansekap.

      Fungsi lansekap meliputi fungsi fisik dan fungsi sosial.

    a.Fungsi fisik, yaitu berfungsi antara lain untuk perlindungan terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus dan terhadap bau, sebagai pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.

    b. Fungsi sosial. Penataan tumbuh-tumbuhan dalam hutan kota dengan baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat menyenangkan. Hutan kota dengan aneka ragam tumbuh-tumbuhan mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga hutan kota dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan hasil tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti buah-buahan, kayu, obat-obatan sebagai warung hidup dan apotik hidup.

    2. Fungsi Pelestarian Lingkungan (ekologi). Dalam pengembangan dan pengendalian kualitas lingkungan fungsi lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi lingkungan ini antara lain adalah:

    a. Menyegarkan udara atau sebagai "paru-paru kota". Fungsi menyegarkan udara dengan mengambil CO2 dalam proses fotosintesis dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernafasan. CO2 diambil dari udara, sedangkan air diambil dari dalam tanah melalui akar tanaman.

    sinarmatahari 6 CO2 + 6 H2O ----------------> C6H12O6 + 6 O2 khlorofil enzim

    b. Menurunkan Suhu Kota dan meningkatkan kelembaban. Suhu disekitar tanaman menjadi lebih sejuk. Uap air di atmosfir bertindak sebagai pengatur panas (suhu udara) karena sifatnya dapat menyerap energi radiasi matahari gelombang pendek maupun gelombang panjang. Hutan kota mempunyai pengaruh besar pada daerah-daerah yang suhunya tinggi, dan sangat bermanfaat khususnya untuk daerah tropis.

    c. Sebagai Ruang Hidup Satwa. Tumbuh-tumbuhan selain sebagai produsen pertama dalam ekosistem juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat) bagi makhluk hidup lainnya, sebagai burung, kupu-kupu, serangga. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting, diantaranya untuk mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan pemencaran biji. Hampir pada setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung, sehingga burung mudah dijumpai. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan, karena apabila terjadi pencemaran lingkungan, burung merupakan komponen alam terdekat yang terkena pencemaran. Burung berperanan dalam rekreasi alam, adanya taman burung selalu dikunjungi orang, untuk menikmati bunyi, kecantikan ataupun kecakapan burung. Malahan sekarang hampir di setiap rumah orang memelihara burung. Burung mempunyai nilai pendidikan dan penelitian. Keindahan burung dari segala yang dimilikinya akan memberikan suatu kenikmatan tersendiri. Kebiasaan burung-burung beranekaragam, ada burung yang mempunyai kebiasaan berada mulai dari tajuk sampai kebawah tajuk. Ini menunjukkan bahwa bila hutan kota mempunyai komposisi banyak jenis, berlapis-lapis dan berstrata akan memikat banyak burung. Hasil penelitian saya (1994) menunjukkan bahwa burung lebih banyak dijumpai baik jenis maupun jumlahnya pada hutan kota yang ditanami dengan tanaman produktif (berbunga, berbuah dan berbiji) pada struktur hutan kota yang berstrata banyak. Kehadiran burung pada hutan kota yang berstara banyak selain karena jumlah tumbuh-tumbuhan yang beranekaragam, juga pohonnya adalah jenis buah-buahan (tanaman produktif). Tanaman produktif dalam hal ini adalah tanaman yang menghasilkan bunga, buah, biji aroma, sehingga memberikan kesempatan lebih besar kepada burung (herbivor) yang menyukainya untuk datang, mencari makan, bercengkrama atau bersarang.

    d. Penyanggah dan Perlindungan Permu-kaan Tanah dari Erosi, sebagai penyanggah dan melindungi permukaan tanah dari air hujan dan angin. Sehubungan dengan itu hutan kota dapat membantu penyediaan air tanah dan pencegahan erosi.

    e. Pengendalian dan Mengurangi Polusi Udara dan Limbah, sebagai pengendalian dan atau mengurangi polusi udara dan limbah, serta menyaring debu. Debu atau partikulat terdiri dari beberapa komponen zat pencemar. Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur seperti garam sulfat, sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi,silika, jelaga dan unsur kimia lainnya. Berbagai hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa tumbuh-tumbuhan dapat mengakumulasi berbagai jenis polutan (pencemar). Seperti pohon johar, asam landi, angsana dan mahoni dapat mengakumulasi Pb (timah hitam) yaitu hasil pencemaran oleh kendaraan bermotor, pada daun dan kulit batang.

    e. Peredaman Kebisingan. Kebisingan adalah suara yang berlebihan, tidak diinginkan dan sering disebut "polusi tak terlihat" yang menyebabkan efek fisik dan psikologis. Efek fisik berhubungan dengan transmisi gelombang suara melalui udara, efek psikologis berhubungan dengan respon manusia terhadap suara.

    f. Tempat Pelesterian Plasma nutfah dan bioindikator, yaitu sebagai tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator dari timbulnya masalah lingkungan seperti. Karena tumbuhan tertentu akan memberikan reaksi tertentu akan perubahan lingkungan yang terjadi disekitarnya. Plasma nutfah sangat diperlukan dan mempunyai nilai yang sangat tinggi dan diperlukan untuk kehidupan.

    g. Menyuburkan Tanah. Sisa-sisa tumbuhan akan dibusukkan oleh mikroorganisma dan akhirnya terurai menjadi humus atau materi yang merupakan sumber hara mineral bagi tumbuhan itu kembali.

    3. Fungsi Estetika. Tumbuh-tumbuhan dapat memberikan keindahan dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma. Hasil penelitian saya menunjukkan bahwa penilaian hutan kota yang berstrata banyak mempunyai nilai estetika lebih tinggi, daripada hutan kota berstrata dua.


 

Menurut Satjapradjo(1991) hutan kota secara garis besarnya mempunyai peran sebagai:

  1. Konservasi Tanah dan Air
  2. Habitat satwa
  3. Pengendali pencemaran
  4. Produksi terbatas
  5. Estetika dan pendidikan

    Manfaat dari hutan kota menurut Wirakusumah yang dikutip Fandeli(1990) antara lain: manfaat produksi berupa oksigen, penambahan kelembapan udara dan peningkatan kelestarian air. Manfaat regulatif berupa penurunan suhu, meredam kebisingan, memperkecil silau cahaya, perlindungan tanah, mengurangi polusi udara, dan menjaga kondisi lingkungan. Manfaat fisiologik antara lain keindahan serta kesehatan fisik dan mental manusia.

    Sedangkan dalam pembangunan kota, huatn kota mempunyai peranan penting dalam pengembangan kota. Peran tersebut akan berfungsi untuk menjaga dan memperbaiki kualitas lingkungan.

    Beberapa peran hutan kota menurut Dahlan(1992):

  6. Pelestarian Plasma Nutfah
  7. Penahan dan penyaring partikel padat dari udara
  8. Penyerap partikel timbale
  9. Peredam kebisingan
  10. Mengurangi bahaya hujan asam
  11. Penyerapan karbon monoksida
  12. Penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen.
  13. Penahan angin
  14. Penyerap dan penapis bau
  15. Mengurangi penggenangan
  16. Mengurangi intrusi air laut
  17. Ameliorasi iklim
  18. Penapis cahaya silau
  19. Sebagai habitat satwa
  20. Mengurangi abrasi pantai


     

    1. Bentuk Hutan Kota

    Berdasarkan criteria, sasaran dan fungsi penting hutan kota, ada berbagai hutan kota, yaitu:

    1. Jalur hijau

    Pohon peneduh jalan raya, jalur hijau di bawah kawat listrik tegangan tinggi, jalur hijau di tepi jalan kereta api, jalur hijau di tepi sungai di dalam kota atau di luar kota dapat dibangun dan dikembangkan sebagai hutan kota guna diperoleh manfaat kualitas lingkungan perkotaan yang baik. Tanaman yang ditanam pada daerah di bawah jalur kawat listrik dan telepon diusahakan yang rendah saja, atau boleh saja dengan tanaman yang dapat menjulang tinggi, namun pada batas ketinggian tertentu harus diberikan pemangkasan.

    Kawasan riparian seperti : delta sungai, kanal, saluran irigasi, tepian danau dan tepi pantai dapat merupakan bagian lokasi dari kegiatan pengembangan hutan kota. Penanaman tanaman di kawasan ini diharapkan dapat memperbaiki kuantitas dan kualitas air serta untuk memperkecil erosi.

    Seperti telah disebutkan di atas, jalur hijau di tepi jalan bebas hambatan yang terdiri dari jalur tanaman pisang dan jalur tanaman yang merambat serta tanaman perdu yang liat yang ditanam secara berlapis-lapis diharapkan dapat berfungsi sebagai penyelamat bagi kendaraan yang keluar dari badan jalan. Sedangkan pada bagian yang lebih luar lagi dapat ditanami dengan tanaman yang tinggi dan rindang untuk menyerap pencemar yang diemisikan oleh kendaraan bermotor.

    1. Taman Kota

    Taman dapat diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian rupa, baik sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia untuk mendapatkan komposisi tertentu yang indah. Setiap jenis tanaman mempunyai karakteristik tersendiri baik menurut bentuk, warna dan teksturnya. Ada pohon yang bentuk tajuknya kecil tinggi dan lurus (cemara lilin), tajuk pohon berbentuk piramida (cemara) dan ada juga yang bentuk tajuknya besar, bulat dan rindang (beringin). Tekstur daun dapat pula dijadikan bahan pertimbangan dalam suatu komposisi taman. Ada daun dengan tekstur yang kasar (Ficus elastica), tekstur sedang (duren) dan ada yang halus (lamtoro). Bentuk percabangan juga dapat dijadikan sebagai komponen dari suatu komposisi. Ada beberapa bentuk percabangan seperti : mendatar, menyudut (acute), menjumbai (weeping) dan tegak.

    1. Kebun dan Pekarangan

    Jenis tanaman yang ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang dapat menghasilkan buah seperti : mangga, durian, sawo, rambutan, jambu, pala, jeruk, delima, kelapa dan lain-lain serta dari jenis yang tidak diharapkan hasil buahnya seperti : cemara, palem, pakis, filisium dan beberapa jenis lainnya. Halaman rumah dapat memberikan prestise tertentu. Oleh sebab itu halaman rumah ditata apik sedemikian rupa untuk mendapatkan citra, kebanggaan dan keindahan tertentu bagi yang empunya rumah maupun orang lain yang memandang dan menikmatinya. Maka halaman tidak hanya ditanam dengan tanaman seperti tersebut di atas, namun dilengkapi juga dengan tanaman bebungaan yang indah. Tanaman lainnya yang dapat dijumpai adalah : sayuran, empon-empon dan tanaman apotik hidup lainnya. Pada halaman rumah pun dapat dijumpai unggas, ikan dan heawan lainnya. Menurut Soemarwoto (1983) tanaman halaman rumah mempunyai fungsi integrasi antara fungsi alam hutan dengan fungsi sosial-budaya-ekonomi masyarakat.

    1. Kebunraya dan Kebun binatang

      Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah satu bentuk hutan kota.

      Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun dari daerah lain, baik dari daerah lain di dalam negeri maupun di luar negeri.Soemarwoto (1983) berpendapat, kebun raya ada yang bersifat ekonomi dan yang bertujuan utama untuk ilmiah

    2. Hutan lindung

      Mintakat kota ke lima yaitu darah dengan lereng yang curam harus dijadikan kawasan hutan karena rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang rawan akan abrasi air laut, hendaknya dijadikan hutan lindung.

    3. Kuburan atau Taman Makam Pahlawan.

      Pada tempat pemakaman banyak ditanam pepohonan. Nampaknya sebagai manifestasi kecintaan orang yang masih hidup terhadap orang yang sudah meninggal tak akan pernah berhenti, selama pohon tersebut masih tegak berdiri. Personifikasi ini nampaknya menyatakan bahwa dengan melalui tanaman dapat digambarkan bahwa kehidupan tidaklah berakhir dengan kematian, namun kematian adalah awal dari kehidupan.


     

    1. Kebisingan

    Bunyi merupakan gelombang tekanan yang dapat dirasakan oleh telinga manusia normal, yang tidak mengalami gangguan pada organ pendengarannya. Bunyi ada yang sengaja diciptakan dan ada yang tidak disengaja diciptakan, yang kehadirnya tidak dikehendaki. Bunyi sering disebut kebisingan.

    Masalah kebisingan menyangkut tiga komponen antara lain: sumber suara, media suara, dan penerima suara..

    Penelitian di Negara-negara berkembang menunjukan bahwa sumber utama kebisingan di daerah pemukiman adalah lalulintas jalan raya.

    Reaksi kebisingan sangat dipengaruhi oleh emosi dan bervariasi dari satu orang ke orang lain. Untuk mengetahui tingkat kebisingan secara obyektif dilakukan pengukuran dengan alat ukur pengukur intensitas suara atau tekanan suara, seperti SPL, SLI, maupun SLM.

    Skala decibel dipakai dalam pengukuran daya suara, intensitas, dan tekanan suara. Dan yang sering diukur dalam pengukuran tingkat kebisingan adalah tekanan suara.

    Tingkat kebisingan yang disebabkan lalulintas menurut Departemrent of transport UK (1988) dipengaruhi oleh:

  21. Volume kendaraan
  22. Kecepatan rata-rata kendaraan
  23. Prosentase kendaraan berat
  24. Tingkat kemiringan
  25. Jenis permukaan jalan
  26. Jarak antara sumber dan penerima kebisingan
    1. Kondisi lingkungan sekitar, seperti adanya tembok, galian, timbunan, kolam, dan tanaman.

    Peraturan pemerintah no 26. Tentang jalan tahun 1985 membagi kendaraan menjadi 5 golongan yaitu:

  27. Kendaraan penumpang/kendaraan bermotor roda3 atau sepeda motor.
  28. Truk kecil berat kurang dari 5 ton atau bus mikro
  29. Truk sedang
  30. Bus
  31. Truk berat

    Kebisingan sudah menjadi gangguan serius bagi manusia. Manusia membutuhkan suasana yang tenang dalam bekerja maupun aktifitas yang membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Di luar negeri sudah ada undang-undang yang mengatur tentang tingkat kebisingan yang diperbolehkan di lingkungan pemukiman.

    1. Hutan Kota dan Kebisingan

    Menurut Dahlan(1992) pohon dapat meredam suara dengan cara mengabsorbsi gelombang suara oleh daun, cabang, dan ranting. Jenis tumbuhan yang paling efektif untuk meredam suara adalah pohon yang mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Kovacs (1985) mengemukakan bahwa pepohonan dapat mengurangi suara dengan cara menyerap dan menahannya, dan kayu dari jenis decioudeus yang mempunyai struktur laminar mampu menyerap dan meneruskan gelombang suara, juga dapat menurunkan intensitas suara. Sedang conifer jarum yang berbentuk silinder mampu mendistribusikan suara.

    Daun dari pohon dan semak dapat mendistribusikan suara. Kekuatan gelombang suara yang melalui pagar hidup dapat diper kecil dengan gerakan-gerakan daun. Dan suara yang dibaurkan atau dipantulkan membaur oleh pohon-pohon sehingga intensitasnya dan frekuensinya berkurang.

    Menurut Wiener dan Kast (1959) menyatakan bahwa gelombang suara akan banyak diserap oleh penutup yanah (ground cover) dan tajuk pohon, penghamburan atau penyebaran suara oleh cabang dan ranting dianggap tidak penting.

    Pudjiharto (1980) menyatakan bahwa penanaman pohon-pohonan dan semak dengan lebar 20 sampai 30 meter adalah penghalang efektif suara bising dari lalu lintas bila jarak jalur itu 24 meter dari jalan raya. Dengan kombinasi antara pohon, semak dan solid barier (pagar beton) kekerasan suara dapat dikurangi sebesar 0,25 nya dari jarak 45 meter sampai 140 meter jika barier diletakkan diantara sumber suara dan penerima suara. Jalur pohon selebar 30 meter dan tinggi 15 meter dengan tanaman rapat dapat menjadi pelindung yang penting dari kebisingan jalan raya.

    Untuk mempertinggi efektifitas tanaman, pohon-pohonan dan semak dibangun penghalang padat (tanah) setinggi 2 sampai 3 meter dengan lebar 15 sampai 30 meter dan diatasnya ditanami tanaman. Hasil kombinasi antara pohon-pohonan, semak dan solid barier yang bias berbentuk tembok dapat menurunkan suara dari 6 dBA sampai 15 dBA di belakang barier. Unsur tanaman dapat melengkapi kekurangan solid barier, dan solid barier dapat melengkapi kekurangan tanaman.

    Menurut Stepens(1985) menyatakan bahwa kemampuan pohon dan semak dalam mengurangi suara tergantung pada jarak antara sumber suara dan tempat tinggalnya serta tergantung pada daya pohon dalam mengabsorbsi suara. Struktur halus dari daun jarum mengurangi kekerasan gelombang suara lebih tinggi dari jenis lainnya.


     

    Daftar Pustaka

    www.dephut.go.id

    tugasku dewe…..

Minggu, 22 Maret 2009

Kompas.Com - Seekor.harimau.sumatera.terkena.jerat.warga


Jumat, 13 Maret 2009 | 18:49 WIB MEDAN, KOMPAS.com - Warga Kecamatan Parmonangan, Kabupaten Tapanuli Utara, menjerat seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Jebakan itu dibuat karena sebelumnya harimau berkeliaran di permukiman mereka. Sejumlah ternak babi milik warga tewas diserang harimau. "Laporan ini kami terima pagi tadi, harimau masuk dalam jebakan warga. Sejauh ini tidak ada warga yang luka, hanya hewan ternak milik warga yang tewas," kata Kepala Samapta Polres Tapanuli Utara Ajun Komisaris Polisi M Peranginangin, Jumat (13/3), dihubungi dari Medan. Peranginangin menuturkan kondisi harimau masih hidup. Lokasi jebakan harimau ini terbilang sulit. Dia mengatakan kawasan ini terletak sekitar 120 kilometer dari Tarutung, ibu kota Tapanuli Utara, atau 400 kilometer dari Medan. Menurut dia, kawasan ini berdekatan dengan kawasan hutan yang berbatasan dengan Tapanuli Tengah.
Kompas.Com - Seekor.harimau.sumatera.terkena.jerat.warga




Taman Nasional Teluk Cendrawasih






peta_teluk cendrawasih
peta_teluk


Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan perwakilan ekosistem terumbu karang, pantai, mangrove dan hutan tropika daratan pulau di Papua/Irian Jaya.


Taman Nasional Teluk Cendrawasih merupakan taman nasional perairan laut terluas di Indonesia, terdiri dari daratan dan pesisir pantai (0,9%), daratan pulau-pulau (3,8%), terumbu karang (5,5%), dan perairan lautan (89,8%).


Potensi karang Taman Nasional Teluk Cendrawasih tercatat 150 jenis dari 15 famili, dan tersebar di tepian 18 pulau besar dan kecil. Persentase penutupan karang hidup bervariasi antara 30,40% sampai dengan 65,64%. Umumnya, ekosistem terumbu karang terbagi menjadi dua zona yaitu zona rataan terumbu (reef flat) dan zona lereng terumbu (reef slope). Jenis-jenis karang yang dapat dilihat antara lain koloni karang biru (Heliopora coerulea), karang hitam (Antiphates sp.), famili Faviidae dan Pectiniidae, serta berbagai jenis karang lunak.


Taman Nasional Teluk Cendrawasih terkenal kaya akan jenis ikan. Tercatat kurang lebih 209 jenis ikan penghuni kawasan ini diantaranya butterflyfish, angelfish, damselfish, parrotfish, rabbitfish, dan anemonefish.


Jenis moluska antara lain keong cowries (Cypraea spp.), keong strombidae (Lambis spp.), keong kerucut (Conus spp.), triton terompet (Charonia tritonis), dan kima raksasa (Tridacna gigas).


Terdapat empat jenis penyu yang sering mendarat di taman nasional ini yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivaceae), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Duyung (Dugong dugon), paus biru (Balaenoptera musculus), ketam kelapa (Birgus latro), lumba-lumba, dan hiu sering terlihat di perairan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.







terumbu karang
telukcendra
Terdapat goa alam yang merupakan peninggalan zaman purba, sumber air panas yang
mengandung belerang tanpa kadar garam di Pulau Misowaar, goa dalam air dengan
kedalaman 100 feet di Tanjung Mangguar. Sejumlah peninggalan dari abad 18 masih
bisa dijumpai pada beberapa tempat seperti di Wendesi, Wasior, dan Yomber. Umat
Kristiani banyak yang berkunjung ke gereja di desa Yende (Pulau Roon), hanya
untuk melihat kitab suci terbitan tahun 1898.


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Pulau Rumberpon. Pengamatan satwa (burung), penangkaran rusa, wisata bahari, menyelam dan snorkeling, kerangka pesawat tempur Jepang yang jatuh di laut.
Pulau Nusrowi. Menyelam dan snorkeling, wisata bahari, pengamatan satwa.
Pulau Mioswaar. Sumber air panas, air terjun, menyelam dan snorkeling, pengamatan satwa dan wisata budaya.
Pulau Yoop dan perairan Windesi. Pengamatan ikan paus dan ikan lumba-lumba.
Pulau Roon. Pengamatan satwa burung, menyelam dan snorkeling, air terjun, wisata budaya, dan gereja tua.


Musim kunjungan terbaik: bulan Mei s/d Oktober setiap tahunnya.


Cara pencapaian lokasi: Dari Jakarta, Surabaya, Denpasar, Ujung Pandang, Jayapura, Honolulu dan Darwin menggunakan pesawat ke Biak, selanjutnya dari Biak menggunakan pesawat ke Manokwari atau Nabire. Dari Jakarta, Surabaya, Ujung Pandang dan Jayapura menggunakan kapal laut ke Manokwari atau Nabire. Dari Manokwari ke lokasi taman nasional (Pulau Rumberpon) menggunakan longboat dengan waktu 5,5 jam. Atau dari Manokwari ke kota kecamatan Ransiki dengan mobil sekitar tiga jam dan dilanjutkan dengan motorboat sekitar 2,5 jam.


Kantor: Jl. Trikora Wosi Rendani, Kotak Pos 229
Manokwari 98312, Papua Barat
Telp. (0986) 212212; Fax. (0986) 212437
E-mail :
btntc@manokwari.wasantara.net.id


Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 448/ Menhut-VI/90
luas 1.453.500 hektar
Ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 8009/Kpts-II/2002
luas 1.453.500 hektar
Letak Kab. Manokwari dan Kab. Paniai,
Provinsi Papua/Irian Jaya
Temperatur udara 21° - 33° C
Curah hujan 1.200 – 3.700 mm/tahun
Kelembaban udara 82 - 83 %
Kecepatan angin 3,5 - 9,0 knot dan 22 - 23 knot
Musim Barat September s/d Maret
Musim Timur April s/d Juli
Musim peralihan Rata-rata Agustus
Letak geografis 1°43’ - 3°22’ LS, 134°06’ - 135°10’ BT


Sumber: Dephut


43 Things Tags:

Taman Nasional Manusela






peta_manusela
peta_manusela


Taman Nasional Manusela merupakan perwakilan tipe ekosistem pantai, hutan rawa, hutan hujan dataran rendah dan hutan hujan pegunungan di Maluku. Tipe vegetasi yang terdapat di taman nasional ini yaitu mangrove, pantai, hutan rawa, tebing sungai, hutan hujan tropika pamah, hutan pegunungan, dan hutan sub-alpin.


FLORA DAN FAUNA


Beberapa jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain tancang (Bruguiera sexangula), bakau (Rhizophora acuminata), api-api (Avicennia sp.), kapur (Dryobalanops sp.), pulai (Alstonia scholaris), ketapang (Terminalia catappa), pandan (Pandanus sp.), meranti (Shorea selanica), benuang (Octomeles sumatrana), matoa/kasai (Pometia pinnata), kayu putih (Melaleuca leucadendron), berbagai jenis anggrek, dan pakis endemik (Chintea binaya).







raja udang biru
raja udang biru
Sekitar 117 jenis burung terdapat di Taman Nasional Manusela, dimana 14 jenis diantaranya endemik seperti kesturi ternate (Lorius garrulus), nuri tengkuk ungu/nuri kepala hitam (L. domicella), kakatua Seram (Cacatua moluccensis), raja udang (Halcyon lazuli dan H. sancta), burung madu Seram besar (Philemon subcorniculatus), dan nuri raja/nuri ambon (Alisterus amboinensis).


Burung kakatua seram merupakan salah satu satwa endemik Pulau Maluku, keberadaannya terancam punah di alam akibat perburuan liar, perusakan dan penyusutan habitatnya. Satwa lainnya di taman nasional ini adalah rusa (Cervus timorensis moluccensis), kuskus (Phalanger orientalis orientalis), soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), babi hutan (Sus celebensis), luwak (Pardofelis marmorata), kadal panama (Tiliqua gigas gigas), duyung (Dugong dugon), penyu hijau (Chelonia mydas), dan berbagai jenis kupu-kupu.


Terdapat sungai-sungai yang mengalir deras, dengan konfigurasi topografi terjal, enam buah gunung/bukit dengan Gunung Binaya yang tertinggi (± 3.027 meter dpl).


Masyarakat desa Manusela, Ilena Maraina, Selumena, dan Kanike, merupakan enclave di dalam kawasan Taman Nasional Manusela. Masyarakat tersebut telah lama berada di desa-desa tersebut, dan percaya bahwa gunung-gunung yang berada di taman nasional dapat memberikan semangat dan perlindungan dalam kehidupan mereka. Kepercayaan mereka secara tidak langsung akan membantu menjaga dan melestarikan taman nasional.


OBYEK WISATA


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:







manusela
manusela

Tepi Merkele, Tepi Kabipoto, Wae Kawa.
Menjelajahi hutan, panjat tebing, pengamatan satwa/tumbuhan.
Pasahari. Pengamatan satwa rusa dan burung.
Wai Isal. Berkemah, menjelajahi hutan, pengamatan satwa/tumbuhan.
Pilana. Pengamatan kupu-kupu dan menjelajahi hutan.
Gunung Binaya. Pendakian, menjelajahi hutan dan air terjun.


Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Masohi pada bulan November, perlombaan Kora-kora pada bulan April dan Darwin-Ambon International Yacht pada bulan Juli di Ambon.


Musim kunjungan terbaik: bulan Mei s/d Oktober setiap tahunnya.


Cara pencapaian lokasi: Taman Nasional Manusela dapat dicapai melalui pantai Utara (Sawai dan Wahai) atau melalui pantai Selatan (Tehoru dan Moso). Route dari Moso sangat cocok bagi yang menyukai pendakian, karena kelerengannya sekitar 30%. Dari Ambon ke Masohi menggunakan ferry setiap hari sekitar delapan jam, dilanjutkan ke Saka menggunakan mobil sekitar dua jam, dan ke Wahai menggunakan speed boat sekitar dua jam. Atau, dari Ambon ke Wahai menggunakan kapal laut sekitar 24 jam (3 x seminggu). Dari Masohi ke Tehoru menggunakan kapal motor sekitar sembilan jam, dilanjutkan ke Moso dan Desa Saunulu.


KONTAK


Kantor: Jl. Christina Martha T. No. 2, PO Box 09
Masohi, Maluku Tengah
Telp. (0914) 22164; Fax. (0914) 22165


Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 281/Kpts-VI/1997
luas 189.000 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Maluku Tengah,
Provinsi Maluku
Temperatur udara 25° - 35° C
Curah hujan 1.500 – 2.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 3.027 meter dpl.
Letak geografis 2°48’ - 3°18’ LS, 129°06’ - 129°46’ BT


Sumber : Dephut , Semarang Bird Watching


43 Things Tags:

Taman Nasional Lorentz






peta_lorentz
peta_lorentz


Taman Nasional Lorentz merupakan perwakilan dari ekosistem terlengkap untuk keanekaragaman hayati di Asia Tenggara dan Pasifik. Kawasan ini juga merupakan salah satu diantara tiga kawasan di dunia yang mempunyai gletser di daerah tropis. Membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 meter dpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura. Dalam bentangan ini, terdapat spektrum ekologis menakjubkan dari kawasan vegetasi alpin, sub-alpin, montana, sub-montana, dataran rendah, dan lahan basah.


Selain memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, terdapat pula beberapa kekhasan dan keunikan adanya gletser di Puncak Jaya dan sungai yang menghilang beberapa kilometer ke dalam tanah di Lembah Balliem.
Sebanyak 34 tipe vegetasi diantaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina, Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata.


Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua) dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik diantaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).


Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon.







lorentz
lorentz


Taman Nasional Lorentz ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO
dan Warisan Alam ASEAN oleh negara-negara ASEAN.



Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur 30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman suku Nduga, Dani Barat, Amungme, Sempan dan Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.


Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan lain-lain.


Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua obyek dan daya tarik wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.


Musim kunjungan terbaik: bulan Agustus s/d Desember setiap tahunnya.


Cara pencapaian lokasi:
Dari kota Timika ke bagian Utara kawasan menggunakan penerbangan perintis dan ke bagian Selatan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Sawa Erma, dilanjutkan dengan jalan setapak ke beberapa lokasi.


Kantor : Jl. Raya Abepura Kotaraja PO Box 1217
Jayapura 99351, Papua Barat
Telp. (0967) 581596; Fax (0967) 585529






Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 154/Kpts-II/1997
dengan luas 2.450.000 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kab. Paniai, Kab. Fak-fak, dan Kab.
Merauke, Provinsi Papua/Irian Jaya
Temperatur udara 29° - 32° C di dataran rendah
Curah hujan 3.700 – 10.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 5.000 meter dpl.
Letak geografis 3°41’ - 5°30’ LS, 136°56’ - 139°09’ BT


Sumber: Dephut


43 Things Tags:

Taman Nasional Wasur






peta_wasur
peta_wasur


Taman Nasional Wasur merupakan perwakilan dari lahan basah yang paling luas di Papua/Irian Jaya dan sedikit mengalami gangguan oleh aktivitas manusia.


FLORA DAN FAUNA







rawa
WASUR21
Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedang lainnya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan taman nasional ini antara lain api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.), dan kayu putih (Melaleuca sp.).


wasurJenis satwa yang umum dijumpai antara lain kanguru pohon (Dendrolagus spadix), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), kasuari gelambir (Casuarius casuarius sclateri), dara mahkota/mambruk (Goura cristata), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda novaeguineae), cendrawasih raja (Cicinnurus regius rex), cendrawasih merah (Paradisea rubra), buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae), dan buaya air asin (C. porosus).


Keanekaragaman hayati bernilai tinggi dan mengagumkan di Taman Nasional Wasur, menyebabkan kawasan ini lebih dikenal sebagai “Serengiti Papua”.


Lahan basah di taman nasional ini merupakan ekosistem yang paling produktif dalam menyediakan bahan pakan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.


Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru. Oleh karena itu, Danau Rawa Biru disebut “Tanah Air” karena ramainya berbagai kehidupan satwa. Lokasi ini sangat cocok untuk mengamati atraksi satwa yang menarik dan menakjubkan.


OBYEK WISATA


Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:







WASUR
WASURx

Danau Rawa Biru, Ukra, Maar, Kakania, Dikbob, Rawa Panjang, Pilmul. Pengamatan satwa, danau, menyelusuri sungai, berkuda dan wisata budaya.
Yanggandur, Soa, Ukra, Onggaya. Savana, pengamatan satwa, menyelusuri sungai, memancing, dan wisata budaya.


Musim kunjungan terbaik: bulan Juli s/d Nopember setiap tahunnya.


Cara pencapaian lokasi: Dari Jayapura ke Merauke (Plane) dengan waktu 1,5 jam, kemudian dari Merauke ke lokasi menggunakan kendaraan roda empat dalam waktu satu sampai dua jam melalui jalan trans Irian (Jayapura-Merauke)


KONTAK


Kantor: Jl. Raya Mandala, Gang Spadem No. 2 Merauke 99611, Papua/Irian Jaya
Telp. (0971) 322495, 325406, 325408
Fax. (0971) 325407


Dinyatakan ---
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 448/Menhut-VI/90
luas 413.810 hektar
Ditetapkan ---
Letak Kabupaten Merauke, Provinsi Papua
Temperatur udara 22° - 30° C
Curah hujan Rata-rata 2.400 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 90 meter dpl.
Letak geografis 8°04’ - 9°07’ LS, 140°29’ - 141°00’ BT



Sumber : Dephut


43 Things Tags:

Taman Nasional Aketajawe-Lolobata

Mengubah fungsi sebagian Kawasan Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 167.300 (seratus enam puluh tujuh ribu tiga ratus) hektar pada Kelompok Hutan Lindung Aketajawe seluas ± 77.100 (tujuh puluh tujuh ribu seratus) hektar dan Kelompok Hutan Lolobata seluas ± 90.200 (sembilan puluh ribu dua ratus) hektar terdiri dari Hutan Lindung seluas ± 76.475 (tujuh puluh enam ribu empat ratus tujuh puluh lima) hektar, Hutan Produksi Terbatas seluas ± 7.650 (tujuh ribu enam ratus lima puluh) hektar, dan Hutan Produksi Tetap seluas ± 6.075 (enam ribu tujuh puluh lima) hektar yang terletak di Kabupaten Halmahera Tengah, Kota Tidore Kepulauan dan Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan fungsi Taman Nasional Aketajawe - Lolobata.


Potensi Flora Dan Fauna


potensi keanekaragaman hayati yang tinggi antara lain berbagai jenis flora seperti Damar (Agathis sp.), Bintangur (Calophyllum inophyllum), Benuang (Octomeles sumatrana), Kayu Bugis (Koordersiodendron pinnatum), Matoa (Pometia pinnata), Merbau (Intsia bijuga), Nyatoh (Palaquium obtusifolium), 213 jenis burung 24 jenis diantaranya endemik Halmahera seperti Mandar gendang (Habroptila walacii), Cekakak murung (Todiramphus funebris), Kepudang sungu Halmahera (Coracina parvula), Kepudang Halmahera (Oriolus phaeochromus), Kupu-kupu raja (Papilo heringi), berbagai jenis satwa seperti Biawak air (Hydrosaurus werneri), Biawak darat (Varanus sp.), Kuskus Halmahera (Phalanger sp.), Babi hutan (Sus scrofa), Rusa (Cervus timorensis), berbagai jenis serangga dan avertebrata lain

Jumat, 27 Februari 2009

Harimau Terkam Pembalak Liar Hingga Tewas


Sabtu, 21 Februari 2009 | 19:12 WIB
Laporan wartawan Irma Tambunan

JAMBI, SABTU - Dua pelaku pembalak liar di Sungai Gelam, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, tewas diduga diterkam harimau sumatera, Minggu (21 /2). Balai Konservasi Sumber Daya Alam kini menelusuri maraknya pembalakan dan perambahan liar dalam kawasan hutan negara tersebut.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) J ambi Didy Wurjanto mengatakan, dua korban tersebut, Ali (50) dan Deri (17). Mereka adalah para pendatang asal Lampung yang membalak kayu dan merambah liar di kawasan hutan produksi. Keduanya mengumpulkan kayu-kayu curian dalam hutan, untuk selanjutnya dijual ke Lampung. Mereka telah sebulan ini melaksanakan aksinya di sekitar hutan tersebut.

Saat berada di sekitar pondok yang mereka buat di dekat tumpukan kayu curian, diduga seekor harimau mendekat dan menyerang keduanya, hingga tewas. "Kondisinya sangat mengenaskan, kepala mereka lepas, punggung tercabik -cabik, dan kaki terlepas," ujar Didy.

Dijelaskan Didy, serangan harimau hingga menewaskan manusia di wilayah Sungai gelam ini merupakan kasus yang ketiga . Sebelumnya, tiga warga tewas diterkam harimau dalam sebulan terakhir. Harimau yang menerkam tiga warga hingga tewas tersebut, yaitu Salma, kini diamankan BKSDA Jambi di Kebun Binatang Taman Rimbo Kota Jambi, setelah sebelumnya masuk ke dalam jerat yang dipasang petugas polhut.

Mengenai adanya temuan harimau menerkam manusia di sana, pihaknya sama sekali tidak menduga. Ini berarti terdapat dua harimau dalam satu teritori kawasan hutan di Sungai Gelam. Biasanya dalam satu teritori hutan hanya terdapat satu harimau saja. "Tapi, ternyata di sini ada harimau lain selain Salma," ujarnya.

Didy memperkirakan daya jelajah harimau semakin sempit seiring maraknya penggundulan hutan dan pembukaan lahan baru untuk kebun sawit dan ladang. "Harimau-harimau terdesak sehingga cenderung berkumpul dalam satu teritori," ujarnya.

Didy melanjutkan, pihaknya akan memproses temuan kasus pembalakan liar kayu di kawasan tersebut. Menurutnya, pencurian kayu dan perambahan liar dalam kawasan hutan di Sungai Gelam harus secepatnya diatasi, supaya tidak semakin banyak satwa liar yang terusik. Pasalnya, hal ini dapat berdampak pada meningkatnya sifat agresif pada satwa liar yang merasa terdesak. Itulah yang membuat banyak kasus harimau menerkam manusia, belakangan ini, tambahnya.

kompas.com

Minggu, 22 Februari 2009

"Gerombolan Si Berat" Kehilangan Habitat

kerusakan akibat serangan gajah
Kamis, 19 Februari 2009 | 12:02 WIB

Sabtu (7/2) pukul 23.30, keluarga Teguh Saputra (38) tengah lelap di pondok di tengah kebun sawit milik Juachir di Desa Balai Makam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau (140 km dari Pekanbaru). Tiba-tiba, pondok bergoyang keras seperti kena gempa. Dinding pondok yang terbuat dari kayu berlepasan. Dari dinding yang jebol muncul dua ekor gajah berukuran besar.

Istri Teguh, Susanti, dan tiga anaknya, Dede Karmansyah (6), Hari Mukti (4,5), dan Alan Ardiansyah (1,5), menjerit ketakutan. Teguh dan Susanti buru-buru menggendong ketiga anak serta berlari dari pondok.

Kedua gajah itu lantas mengambil makanan di dapur. Puluhan ekor gajah lain memakan tunas kelapa sawit di kebun.

Tidak jauh dari pondok ada dua pemuda yang sedang menjaga ekskavator untuk membuka kebun sawit. Saat diberi tahu Teguh tentang keberadaan gajah, mereka segera menghidupkan alat berat itu untuk menakut-nakuti gajah. Tak berapa lama kawanan gajah yang berjumlah tak kurang dari 30 ekor itu pergi beriringan menuju hutan yang berjarak sekitar dua kilometer dari kebun.

Senin (9/2) menjelang magrib, saat Kompas bertandang, pondok Teguh sudah berdiri meski masih miring. ”Tetangga bergotong royong untuk mendirikan kembali. Kami sudah menginap lagi di sini,” tutur Teguh sambil membuat api unggun di depan pondoknya agar gajah tidak datang lagi.

Teguh masih beruntung. Menurut Saragih (65), warga Desa Balai Makam, Ronald Silalahi (43), pada 19 Juli 2008, mati diinjak-injak gajah.

Silalahi bertani sayur di belakang perumahan Bukit Asri Tambusai III, Desa Balai Makam (10 km dari rumah Teguh).

Ceritanya, tanggal 18 Juli malam, kebun sayur Silalahi disatroni gajah dan hampir setengah tanaman sayurnya rusak. Keesokan harinya, kawanan gajah kembali datang. Silalahi langsung gelap mata. Dia membawa gergaji rantai untuk melawan kawanan gajah itu.

Saat gergaji dihidupkan, sebagian gajah takut dan menjauh. Namun, gajah yang paling besar justru mendekat. Naas, ketika Silalahi mundur, kakinya tersandung kayu dan terjatuh. Gajah besar itu pun langsung menginjak-injak tubuh Silalahi sampai remuk.

Akhir 2008, warga lain, Ruli Nasir, tewas diinjak gajah saat naik motor dan berjumpa kawanan gajah yang melintas jalan desa.

Sebaliknya, Juli 2008, seekor gajah tewas dibantai warga di Desa Pungut, Kecamatan Pinggir (sekitar 20 km dari Desa Balai Makam).

Upaya relokasi

Setelah kematian Silalahi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau menurunkan tiga ekor gajah jinak untuk memindahkan kawanan gajah liar ke hutan Muara Basung, sekitar 40 km dari Desa Balai Makam.

Namun, awal tahun 2009, ”gerombolan si berat” itu kembali lagi. Kali ini mereka mengunjungi pondok dan kebun Teguh.

Jika diperhatikan, lokasi pondok dan kebun tempat Teguh tinggal maupun lokasi kebun Silalahi merupakan bekas rimba raya yang dulu menjadi habitat gajah.

Pembukaan kebun sawit telah menggusur kawanan gajah dari tempat tinggal dan sumber makanan mereka. Saat ini, sejauh mata memandang yang terlihat adalah hamparan pohon sawit. Hutan lindung yang tersisa sangat tidak memadai dan terus dirambah manusia.

BKSDA Riau sudah angkat tangan dalam masalah penanganan gajah. Satu-satunya jalan adalah merelokasi gajah ke hutan lindung. Persoalannya, hutan lindung yang ada tidak cukup untuk menampung para gajah itu.

Satu-satunya kemungkinan relokasi adalah ke areal rencana perluasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Kabupaten Pelalawan yang berjarak sekitar 200 km dari Desa Balai Makam.

Masalahnya, deklarasi perluasan TNTN belum pasti. Selain itu, belum tentu Balai TNTN bersedia menampung gajah-gajah itu.

Suaka margasatwa

Di Kabupaten Bengkalis sebenarnya ada lokasi penampungan gajah, yaitu Suaka Margasatwa Balai Raja. Namun, akibat tidak ada perhatian dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Riau, maupun Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Suaka Margasatwa Balai Raja yang dulu luasnya 4.800 hektar, kini tinggal semak belukar seluas belasan hektar saja. Sebagian besar lahan suaka margasatwa sudah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit.

Kalau sudah begini, siapakah yang salah? Manusia atau gajah? (Syahnan Rangkuti) *


kompas.com

Jumat, 20 Februari 2009

HEBOH ULAR RAKSASA


Sabtu, 21 Februari 2009 | 05:45 WIB

BARU-BARU ini, muncul sebuah foto udara yang membuat heboh Malaysia. Seekor ular raksasa berenang di Sungai Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia. Hiii...

Sebuah foto ular raksasa terlihat berenang melenggak-lenggok di sebuah sungai tropis yang dikelilingi oleh hutan gambut. Ular berwarna hitam itu sangat besar, hampir memenuhi sungai yang terletak di tengah-tengah hutan rawa yang rimbun. Air beriak di kiri kanannya. Kabarnya, foto itu diambil dari sebuah helikopter, 11 Februari 2009 lalu.

Foto itulah yang menjadi perdebatan luas di Malaysia saat ini. Kalimantan memang memiliki ular-ular raksasa. Namun selama ini, ular yang besar yang baru ditemukan adalah sejenis sanca atau python atau masyarakat Kalimantan menyebutnya ular sawah, yang panjangnya belasan meter.

Namun ular yang terlihat di foto dan beredar luas di internet, termasuk Youtube, jauh lebih panjang dan besar dibanding temuan python selama ini. Diperkirakan panjangnya 100 kaki atau sekitar 33 meter.

Gambar tersebut diambil oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, pekan lalu. New Straits Times di Kuala Lumpur, juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris.

Ada juga yang tidak mempercayai foto itu dan menganggapnya rekayasa semata. Hal ini karena terlalu jauhnya pengambilan gambar ular tersebut. Benar atau tidak, foto itu sudah membuat masyarakat di sekitar Serawak, khususnya Sibu, ketakutan. Sebab, sungai itu merupakan urat nadi transportasi masyarakat selama ini.

Berdasarkan legenda yang hidup di masyarakat setempat, memang dipercaya tentang adanya anaconda di kawasan tersebut yang bernama Nabau. Menurut kepercayaan, Nabau merupakan ular dengan panjang 80 meter dengan kepala naga dan tujuh lubang hidung. Masyarakat desa yang tinggal di sungai Baleh Borneo mempercayai makhluk mistik tersebut. Selain itu, masyarakat memang sering melihat ular-ular besar di kawasan itu.

Nah, pertanyaannya, bila foto itu asli, apakah ular yang terlihat itu sejenis python atau anaconda? Hingga kini memang belum ditemukan adanya anaconda di Kalimantan, kecuali dalam film Anaconda: The Hunt For The Blood Orchid yang laris itu.

Rekor ular terpanjang saat ini memang anaconda (eunectes) dari Amazone. Anaconda merupakan keluarga boa. Panjang anaconda yang baru ditemukan adalah 50 kaki, namun para ilmuwan percaya ada anaconda yang panjangnya 80 kaki, bahkan 100 kaki dari temuan kulit ular tersebut oleh sebuah ekspedisi ilmuwan Inggris tahun 1992. Dalam keluarga anaconda, menurut situs lingkungan Mongabay, yang terbesar adalah anaconda hijau (Eunectes murinus). Panjangnya mencapai 43 meter.

Python Asia adalah ular terpanjang kedua. Ilmuwan menyebutnya Asiatic Reticulated Python (python reticulatus). Python terpanjang yang ditemukan di kawasan Kalimantan panjangnya 33 kaki, dan merupakan rekor dunia sanca terpanjang saat ini. Para ilmuwan percaya panjang python bisa mencapai 50 kaki atau sekitar 15 meter.

Bedanya, anaconda lebih langsing dan ahli berenang. Sementara python lebih gemuk dan hanya suka kelembaban, bukan di air. Anaconda menggigit mangsanya sampai mati sebelum menelan, sementara python menggunakan kekuatannya dengan membalut mangsa sampai tulang-belulangnya hancur atau tak bergerak lagi, kemudian ditelan bulat-bulat.

Awal Februari, para ilmuwan menemukan fosil ular seberat sebuah mobil kecil. Ular itu diperkirakan bisa melumat binatang seukuran sapi. Monster sepanjang 45 kaki bernama Titanoboa sangat besar dan hidup dengan memakan buaya dan kura-kura raksasa. Beratnya mencapai 1,25 ton. Ia biasa merayap di sekitar hutan-hutan tropis Amerika Selatan 60 tahun silam. (yan/berbagai sumber)


KOMPAS

Sabtu, 24 Januari 2009

Hutan Hancur, 2 Harimau Sumatera Terkam Pencari Getah

JAMBI | SURYA Online - Petugas lapangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi menggunakan bom karbit untuk menghalau harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang menerkam pencari getah pohon jelutung hingga tewas, Sabtu (24/1/2009) pagi.

Kepala BKSDA Provinsi Jambi, Didy Wurjanto ketika dihubungi di Jambi, mengatakan, anak bauhnya sedang di lokasi kejadian tewasnya pencari getah bernama Raba’i bin Thalib (43), warga Desa Pematang Raman, Kecamatan Kumpe Ilir, Kabupaten Muarojambi.

Ia diterkam dua harimau di kawasan hutan eks Hak Pengusahaan Hutan (HPH) PT Putra Duta Indahwood (PDI). Peristiwa mengenaskan itu terjadi pada Sabtu pukul 03:00 WIB saat korban keluar dari pondok untuk buang air kecil. Akibat terkaman binatang buas itu, korban mengalami luka cukup serius pada bagian kepala, leher dan tulang rusuk kanannya patah.

“Untuk menangkap atau menembak harimau itu dengan peluru bius agak sulit, karena sudah masuk hutan. Satu-satunya jalan mengusir satwa langka itu dengan bom karbit agar tidak berkeliaran atau masuk ke lahan perkebunan petani,” katanya.

Ia memperkirakan, harimau yang menerkam Raba’i berusia tua yang saat ini mulai kesulitan mencari makan di hutan akibat banyaknya hutan di Jambi berubah fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Lokasi kejadian itu merupakan kawasan penyangga Taman Nasional Berbak (TNB) yang selama ini menjadi tempat berkembang biaknya populasi harimau Sumatera. Namun TNB kini juga mengalami kerusakan atau sebagian gundul akibat perambahan dan pembalakan liar.

Harimau Sumatra di Jambi saat ini (di luar Taman Nasional Kerinci Seblat/TNKS) diperkirakan populasinya tinggal 20 ekor yang terancam punah akibat terdesak oleh penggundulan hutan dan maraknya perburuan liar. “Berdasarkan hasil survei pada 2006, populasi harimau Sumatra di Jambi tinggal 60 ekor, namun saya memperkirakan kini tinggal 20 ekor,” ujarnya.

Ia menjelaskan, degradasi hutan menjadi penyebab utama kian menurunnya populasi harimau Sumatra di Jambi, yang sebagian besar berusia tua dan tidak kompetitif lagi melakukan penjelajahan dari satu kawasan hutan ke kawasan lain untuk mencari makan.

Akibatnya satwa-satwa itu masuk ke perkebunan dan perkampungan dan memangsa apa saja yang dilihat untuk mempertahankan hidup. BKSDA Jambi mengharapkan pemerintah pusat dan daerah dapat membangun kawasan khusus habitat harimau Sumatra, sehingga korban jiwa manusia akibat diterkam satwa itu tidak terulang, sekaligus menyelamatkan populasi harimau itu dari ancaman kepunahan.

Ia mengimbau semua lapisan masyarakat agar menjaga atau tidak merusak hutan, karena hutan memberikan kehidupan bagi manusia, flora dan fauna, serta mencegah banjir dan kekeringan. ant

Senin, 19 Januari 2009

HARIMAU JAWA BELUM PUNAH?

Selasa, 18 November 2008 | 16:38 WIB

BOYOLALI, SELASA — Para pecinta lingkungan meyakini bahwa harimau jawa sudah punah. Namun, peristiwa yang terjadi di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membuat petugas Balai Taman Nasional Gunung Merbabu bingung. Seorang perempuan tewas dimangsa macan. Saksi yang melihat macan itu menyebut ciri harimau jawa.

Koordinator Polisi Hutan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Eko Novi yang saat dihubungi pada Senin (16/11) berada di Boyolali, mengutarakan, saat ini petugasnya masih belum memiliki referensi soal macan tersebut. Penelitian secara mendetail untuk mengetahui jenis macan tersebut belum bisa dilakukan.

Minggu sore warga sekitar Desa Ketundan, Kecamatan Pakis, menemukan sesosok mayat perempuan tanpa identitas yang berusia sekitar 30 tahun. Daging paha korban sudah habis hingga menyisakan tulang, sedangkan pakaian korban terkoyak-koyak.

Sehari sebelumnya, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu Untung Suprapto sempat mengutarakan, warga yang menyaksikan macan itu menyebutkan, postur macan tersebut tidak terlalu besar. Tubuhnya ada totol-totol sehingga pihaknya menduga macan ini tergolong macan tutul.

"Namun, ada juga warga yang bilang melihat ada coklat-coklat kulitnya. Saya jadi bingung lagi. Soalnya kalau itu, berarti harimau jawa. Padahal, sudah hampir punah dan hanya ada di Meru Betiri di Jember. Malah jadi bingung," kata Untung.



kompas.com