WELCOME TO FOREST CONSERVATION

SAVE OUR FOREST
WILL
SAVE OUR WORLD

SAVE OUR FOREST
FOR
A BETTER FUTURE

Senin, 05 April 2010

pengembangan ekowisata

Andersen, (1995) dalam linberg,dkk (1995) pengembangan ekowisata dapat meningkatkan kualitas lingkungan dan peningkatan perekonomian secara bersama – sama. Munculnya ekowisata juga merupakan gambaran dari lingkungan dan kegiatan perekonomian yang mengalami perubahan yang mengancam kehidupan manusia.

Tujuan ekowisata adalah untuk mengkonservasi dan melestarikan sumberdaya alam yang ada. Tujuan ekowisata ini akan tercapai apabila konsep ekowiata tersebut, tersampaikan kepada seluruh pelaku ekowisata baik wisatawan, pemandu, masyarakat setempat, pengelola dan pihak yang terkait. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut yaitu dengan melakukan pemanduan terhadap wisatawan. Pemanduan yaitu mendampingi wisatawan untuk memahami apa yang dilihat oleh wisatawan dan menyampaikan arti yang terkandung dalam obyek wisata alam sehingga wisatawan mengerti bahwa ekowisata adalah berwisata yang bertujuan bukan hanya untuk piknik atau rekreasi saja tapi lebih dari sebagai sarana pendidikan, penerangan dan penyedaran lingkungan.

Salah satu cara untuk melakukan pemanduan yaitu dengan menetapkan jalur pemanduan terhadap objek yang tersebar dan mempunyai cirri khas yang berbeda. Objek yang berbeda ini dapat dijadikan sebagai paket pemanduan yang saling terkait sehingga tujuan ekowisata lebih mudah tercapai. Menurut Kaharudin (2003) keberadaan jalur dalam suatu objek wisata harus dipahami dalam dua perspektif yaitu sebagai penghubung antar atraksi wisata dan penghubung pada suatu kejadian.

Rabu, 03 Maret 2010

Banteng ( Bos javanicus )

banteng (dari bahasa Jawa, banthèng), Bos javanicus, adalah hewan yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, and Bali. Banteng dibawa ke Australia Utara pada masa kolonisasi Britania pada 1849 dan sampai sekarang masih lestari.

Terdapat tiga anak jenis banteng liar: B. javanicus javanicus (di Jawa, Madura, dan Bali), B. javanicus lowi (di Kalimantan, jantannya berwarna coklat bukan hitam), dan B. javanicus birmanicus (di Indocina). Anak jenis yang terakhir digolongkan sebagai Terancam oleh IUCN.

Hewan ini bertubuh tegap, besar dan kuat dengan bahu bagian depannya lebih tinggi daripada bagian belakang tubuhnya (Alikodra, 1983). Panjang tubuh dan kepala banteng adalah 18-22.5 cm; panjang ekor 6.5-7 cm, memiliki tinggi 12-19 cm dan berat 400-900 kg (Grzimek, 1975; Lekagul & Mc. Neely, 1977). Di kepalanya terdapat sepasang tanduk, pada bagian dadanya terdapat gelambir (dewlap) yang dimulai dari pangkal kaki depan sampai bagian leher, tetapi tidak mencapai daerah kerongkongan.

Banteng merupakan satwa liar yang menyukai daerah hutan terbuka dan berumput. Menurut Hoogerwerf (1970) dalam Alikodra (1983), penyebaran banteng meliputi wilayah yang cukup luas yaitu daerah pantai pada ketinggian 0 m dpl sampai daerah pegunungan dengan ketinggian 2132 m dpl.
Banteng banyak terdapat di areal terbuka, namun sangat tergantung ketebalan semak-semak dan hutan tempat berlindung. Banteng mungkin aktif setiap saat namun akan menjadi nocturnal di area yang mengalami gangguan manusia (Lekagul & Mc. Neely, 1977).

Kemampuan berkembangbiak suatu populasi banteng ditentukan oleh struktur populasi (populasi, kepadatan, sex ratio dan stratifikasi umur) dan kondisi kualitas dan kuantitas lingkungan. Perkawinan biasanya dilakukan pada malam hari. Lamanya bayi dalam kandungan adalah 9.5-10 bulan dan jumlah anak setiap induk berkisar antara 1-2 ekor. Banteng termasuk hewan monoestrus artinya mempunyai 1 musim kawin dalam 1 tahun. Umur termuda banteng betina untuk mulai berkembangbiak adalah 3 tahun, sedangkan untuk banteng jantan lebih dari 3 tahun. Banteng dapat mencapai umur 21-25 tahun, sehingga seekor betina sepanjang umurnya dapat menurunkan anaknya sebanyak 21 kali.

Banteng hidup dari rumput, bambu, buah-buahan, dedaunan, dan ranting muda. Banteng umumnya aktif baik malam maupun siang hari, tapi pada daerah pemukiman manusia, mereka beradaptasi sebagai hewan nokturnal. Banteng memiliki kecenderungan untuk berkelompok pada kawanan berjumlah dua sampai tiga puluh ekor. Di Jawa, Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Baluran menjadi pertahanan terakhir hewan asli Asia Tenggara ini.


Sumber:

wikipedia

www.merubetiri.com

Rabu, 10 Februari 2010

LUTUNG JAWA ( Trachypithecus auratus )

1. Klasifikasi
• Kingdom : Animalia
• Sub Kingdom : Metazoa
• Phyllum : Chordata
• Sub Phyllum : Vertebrata
• Classis : Mamalia
• Sub Classis : Theria
• Ordo : Primata
• Sub Ordo : Antropidea
• Familia : Ceroopithecidae
• Genus : Trachypithecus
• Spesies : Trachypitechus auratus

2. Morfologi
Lutung budeng atau dalam nama ilmiahnya Trachypithecus auratus adalah sejenis lutung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Lutung budeng memiliki rambut tubuh berwarna hitam. Dan seperti jenis lutung lainnya, lutung ini memiliki ekor yang panjang, sekitar 87cm.
Jantan dan betina biasanya berwarna hitam, namun betina memiliki warna putih kekuningan di sekitar kelaminnya. Lutung muda memiliki rambut tubuh berwarna oranye. Ada dua subspesies dari Lutung Budeng, yang dibedakan dari daerah sebarannya. Subspesies utama, T. a. auratus memiliki ras yang langka, di mana lutung dewasa memiliki warna rambut seperti lutung muda yang berwarna oranye, namun warnanya lebih gelap sedikit dengan ujung kuning.
Lutung mempunyai berat rata-rata sekitar 6,3 kg – 7 kg. mempunyai bentuk ibu jari yang besar, morfologi telapak tangan berupa segitiga, dan datar merupakan adaptasi lutung terhadap habitat sehingga mampu hidup di pohon.
3. Perilaku
Lutung Budeng adalah hewan diurnal, yang lebih aktif pada waktu siang hari di atas pepohonan. Makanan pokoknya terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Memakan dedaunan, buah-buahan dan bunga. Spesies ini juga memakan larva serangga.
Lutung Budeng hidup berkelompok, yang dalam satu kelompoknya terdiri dari sekitar tujuh ekor lutung, termasuk satu atau dua ekor lutung jantan dewasa. Lutung betina biasanya hanya mempunyai satu anak setiap melahirkan dan saling bantu membesarkan anak-anak lutung. Namun lutung betina juga bersifat sangat agresif terhadap lutung betina dari kelompok lain.

4. Status Dilindungi
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 733/kpts-II/1999 tentang penetapan lutung ( Trachypithecus auratus ) sebagai satwa yang dilindungi.
Sedangkan menurut IUCN (international Union for Conservation of Nature) masuk dalam kategori Vulnurable atau rentan, sedangkan menurut CITES masuk dalam Appendix II. Spesies ini dianggap Rentan ( vulnerable ) karena masa lalu dan populasinya terus menurun, diperkirakan lebih dari 30% selama 36 tahun (3 generasi, generasi diberikan panjang 12 tahun), sebagai akibat penangkapan untuk perdagangan hewan ilegal, perburuan , dan hilangnya habitat.

Lutung dapat dijumpai di mangrove, hutan rawa-rawa, dataran rendah, hutan perbukitan, hutan musim yang kering, dan hutan pegunungan hingga ketinggian 3000-3500 mdpl. Selain itu juga ditemui di hutan tanaman jati, rasamala dan akasia.
Menyukai makanan berupa dedaunan, bunga, biji dari buah. Di dieng, jawa tengah, lutung ditemukan di hutan primer maupun hutan sekunder, di tepian, maupun diatas kanopi. Daerah jelajah lutung sekitar 20 -30 ha dan mungkin bisa lebih besar di pulau jawa.
Spesies ini endemic di Indonesia tepatnya di pulau jawa, dan pulau-pulau kecil seperti bali, lombok, nusa barung, dan pulau sempu. Di pulau lombok populasi lutung dikarenakan terjadi introduksi oleh manusia. Species ini terdapat di Jawa Timur, Bali, Lombok, Palau Sempu dan Nusa Barung. Subspesies ini memiliki dua morphs, salah satunya, morph merah, memiliki distribusi terbatas antara Blitar, Ijen, dan Pugeran, Jawa (Groves 2001). Morph lain adalah lebih umum dan ditemukan di Jawa timur, barat ke Gunung Ujungtebu (Brandon-Jones 1995).

Selasa, 29 September 2009

Macan Kumbang

Macan kumbang atau macan tutul jawa atau harimau hitam (panthera pardus melas) adalah salah satu sub spesies dari macan tutul yg hanya ditemukan di hutan tropis pegunungn dan kawasan konservasi di pulau jawa.
Macan kumbang berukuran besar dan mempunyai indra penglihatan dan penciuman yang tajam,mempunyai warna bulu hitam dan mempunyai bintik-bintik gelap bentuk kembangan.
Macan kumbang adalah hewan yg soliter,kecuali saat musim berbiak,macan kumbang satu-satunya kucing besar yg masih tersisa di pulau jawa,sebagian besar populasinya ditemukan di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.
Dalam IUCN Red List macan kumbang termasuk kategori terancam punah dan di Cites masuk dalam Appendix I,di indonesia dilindungi menurut UU no 5 tahun 1999 dan PP No 7 tahun 1999.

Ciri-ciri kawasan konservasi

1. Keunikan ekosistemnya.
2. Sumberdaya fauna langka.
3. Keanekaragaman jenis flora.
4. Panorama atau ciri geofisik yg memiliki nilai estetika dan wisata.
5. Fungsi hidrologi

Minggu, 07 Juni 2009

pemetaan

Kartografi adalah ilmu dan teknik pembuatan peta. Dalam kaitannya dengan survei arkeologi, pembahasan mengenai kartografi pada bab ini tidak langsung dikaitkan dengan ilmu dan teknik pembuatan peta, tetapi lebih berkaitan dengan pemanfaatan peta yang sudah dipublikasikan untuk kepentingan survey. Peta dapat diklasifikasikan menurut jenis, skala, fungsi, dan macam persoalan (maksud dan tujuan). Ditinjau dari jenisnya peta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu peta foto dan peta garis. Peta foto adalah peta yang dihasilkan dari mosaik foto udara / ortofoto yang dilengkapi garis kontur, nama, dan legenda Peta ini meliputi peta foto yang sudah direktifikasi dan peta ortofoto. Adapun peta garis adalahpeta yang menyajikan detil alam dan buatan manusia dalam bentuk titik, garis, dan luasan Peta ini terdiri atas peta topografi dan peta tematik.
Pemetaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perencanaan pengelolaan suatu areal karena dasar dari pengelolaan yang baik adalah menganal dan mengetahui semua potensi yang ada pada areal kelolaan guna pemanfaatannya. Dalam pemetaan guna perencanaan manajemen suatu areal, dikenal dua tahap pokok yaitu menginterpretasikan melalui foto udara dan pengecekkan di lapangan melalui pengukuran/ penyipatan datar atau penyipatan ruang. Dua tahap ini bersifat saling menunjang dan melengkapi karean bila kita hanya memetakan suatu areal melalui foto udara saja maka peta areal yang kita dapatkan nantinya adalah belum teapt benar(tidak sesuai dengan kenyataan). Ketidaktepatan tersebut disesbabkan oleh ketidakvalidan dalam menginterpretasi foto udara yang dalam pelaksanaannya banyak memasukkan unsur kemampuan subyek/interprener dalam menganalisa foto udara tersebut. (Sahid,2008)
Alat-alat yang biasa digunakan dalam pengukuran lapangan guna pemetaan adalah sebagai berikut :
• Kompas klinometer
• GPS (Global Positioning System)
• Rambu/jalon
• Waterpass/theodolite/BTM(Boussole Tranche Montagne)
• Pita ukur
• Statif dan unting-unting
• Payung(peneduh instrumen),dan lain-lain.( Sahid, 2008)
Untuk pekerjaan-pekeraan yang memerlukan ketelitian dipergunakan theodolite, sedangkan untuk pemetaan hutan cukup dipakai BTM. Yang diukur untuk kepentingan pembuatan peta adalah sudut horisontal, sudut vertikal, dan jarak. Sudut horisontal dapat berbentuk azimut bearing, sudut dalam dan sudut luar. Azimut dari suatu garis di atas bumi adalah sudut horisontal yang diukur dari bidang meridian ke bidang vertikal yang memuat garis tersebut. Azimut menentukan arah garis terhadap meridian dan biasanya diukur dalam arah utara atau arah selatan. Untuk memetakan daerah yang kecil (sempit) biasanya azimut dihitung dari arah utara. Pada pengukuran tidak selalau harus diukur azimuthnya. Bila pengukuran digunkaan alat theodolite maka azimutnya diukur pada titik permulaan untuk menentukan arah garis sebagai pengikat. Selanjutnya diukur adalah sudut dalam yaitu sudut apit dari dua arah yang bertemu pada titik sudut tersebut. (Kamsilam,1990)
Poligon adalah seri dari garis-garis yang berhubungan dengan panjang tertentu yang dihubungkan satu sama lain oleh sudut yang diketahui. Panjang garis-garis terssebut ditentukan dari pengukuran jarak horisontal atau jarak yang diperoleh ari pengukuran kelerengan yang sudah dirubah menjadi jarak horisontal. Sudut poligon dapat berupa sudut dalam maupun sudut luar. Hasil pengukuran di lapangan akan berupa garis yang panjangnya diketahui engan azimut atau bearing yang diketahui. Panjang garis yang dimaksudkan adalah panjang / jarak horisontal, sedangkan azimut atau bearing dpat berupa azimut/bearing magnetis atau azimut/bearing sesungguhnya. Poligon terbagi menjadi dua yaitu poligon terbuka dan poligon tertutup. Poligon terbuka yaitu poligon yang dimulai dari titik yang kedudukan horisontalnya diketahui dan berakhir pada titik yang tidak diketahui kedudukan horizontalnya. Yang pertama disebut poligon terikat tidak sempurna dan yang kedua disebut poligon terikat sempurna. Poligon tertutup adalah poligon yang dimulai dari titik tertentu dan kembali ke titik tersebut. Titik tersebut merupakan titik yang sudah diketahui kedudukan horisontanya maupun titik yang belum diketahui kedudukan horisontalnya. Poligon terbuka tidak dapat dicek kebenarannya sedangkan poligon tertututp dapat disek kebenarannya. Pada poligon tertutup jumlah semua sudut harus memenuhi ketentuan :
Jumlah sudut poligon = (n-20) x 180o
bila jumlah sudut yang diukur di lapangan tidak sesuai dengan rumus di atas maka harus diadakan koreksi. Pengkuran poligon dapat dilakukan dengan alat-alat sederhana misalnya kompas, pita ukur, dan untuk lahan miring digunakan pengukur sudut. Untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian tinggi perlu dipakai theodolite , waterpass, atau BTM. Setelah pengukuran di lapangan selesai , hasil pengukuran kemudian diolah dan diadakan perhitungan-perhitungan sehingga hasilnya dapat digambarkan dalam bentuk peta. Koreksi didakan dengan menggambar poligon utama dengan skala dua kali skala yang akan digunakan untuk penggambaran peta dengan maksud agar apabila ada kesalahan segera dapat diketahui.( Kamsilam,1990)
Secara umum interpolasi dapat didefinisikan sebagai penetuan nilai suatu besaran berdasarkan besaran lain yang sudah diketahu nilainya, dimana letak dari besaran yang akan ditentukan tersebut di antara besaran yang akan ditentukan tersebut i antara besaran yang seudah diketahui (Waindo, 2007 dalam Anonim 2008)). Dalam interpolasi , hubungan antara titik-titik acuan tersebut didekati dengan menggunakan fungsi yang disebut fungsi interpolasi. Dengan demikian dalam interpolasi akan melibatkan dua tahap pokok yaitu : 1. penentuan fungsi interpolasi berdasar data acuan , 2. menentukan nilai dari besaran antara. Dalam kehidupan sehari-hari teknik interpolasi banyak dipergunakan. Sebagai contoh, bila membaca kecepatan kendaraan dari speedometer yang menunjukkan angka di antara dua strip, maka secara otomatis akan memperkirakan harga tersebut berdasarkan dua strip di dekatnya. Sensus data yang hanya ada sekitar 10 tahun sekali dan menginginkan data kependudukan pada tahun antaranya maka pendekatan interpolasi secara otomatis akan dilakukan.(Anonim,2008)


Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. Dalam pembahasan selanjutnya, SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan . SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya. Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute).(www.google.com \materi pemetaan.htm)

Sistem Informasi Geografis

Perencanan dan pengelolaan sumberdaya hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya. Untuk itu diperlukan informasi yang memadai yang bisa dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Positioning Sistem (GPS) merupakan tiga teknolgi spasial yang berguna.Semakn rumitnya proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan hutan membuat kebutuhan akan informasi semakin esensial. Informasi bisa dilihat sebagai input asar dari perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi. Tidak adanya dan tidak layaknya informasi bisa berakibat fatal pada proyek dan program kehutanan.Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis. SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan .

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya. SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (attribute).(www.google.com \materi pemetaan.htm).

Peta merupakan penyajian secara grafis dari kumpulan data yang mentah maupun yang telah dianalisis atau informasi sesuai dengan lokasinya. Dengan kata lain, peta adalah bentuk sajian informasi spasial mengenai permukaan bumi untuk dapat dipergunakan dalam pembuatan keputusan. Supaya bermanfaat suatu peta harus dapat menampilkan informasi secara jelas, mengandung ketelitian yang tinggi walaupun tidak dihindari harus bersifat selektif dengan mengalami pengolahan biasanya terlebih dahulu ditambah dengan ilmu pengetahuan agar lebih dapat dimanfaatkan langsung oleh pengguna.

Selasa, 05 Mei 2009

Keanekaragaman Jenis dan Penyebaran Kura-kura dan Penyu

Seluruhnya, diperkirakan terdapat sekitar 260 spesies kura-kura dari 12-14 suku (familia) yang masih hidup di pelbagai bagian dunia. Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 45 jenis dari sekitar 7 suku kura-kura dan penyu.

  1. Anak bangsa Pleurodira
  • Chelidae, kura-kura leher ular

Suku ini dinamai demikian karena kebanyakan anggotanya memiliki leher yang panjang. Karena tak dapat ditarik masuk, kepala kura-kura ini hanya dilipat menyamping di sisi tubuhnya di bawah lindungan pinggiran tempurung badannya.

Suku kura-kura leher ular menyebar terutama di Papua dan Australia serta pulau-pulau di sekitarnya, dan di Amerika Selatan. Di luar tempat-tempat tersebut ditemukan pula di Pulau Rote, Nusa Tenggara. Habitat kura-kura ini adalah perairan tawar. Beberapa jenisnya yang ada di Indonesia, di antaranya:
Kura-kura rote (Chelodina mccordi)
Kura-kura papua (Chelodina novaeguineae)
Kura-kura perut putih (Elseya branderhosti)

  • Pelomedusidae

Seperti kerabat terdekatnya, Chelidae, anggota suku ini merupakan kura-kura air tawar. Kura-kura ini hidup di Amerika Selatan, Afrika dan Madagaskar dan tidak didapati di Indonesia.

2. Anak bangsa Cryptodira

  • Cheloniidae, penyu

Penyu hidup sepenuhnya akuatik di lautan. Kecuali yang betina ketika bertelur, penyu boleh dikatakan tidak pernah lagi menginjak daratan setelah dia mengenal laut semenjak menetas dahulu. Kepala, kaki dan ekor penyu tak dapat ditarik masuk ke tempurungnya. Kaki-kaki penyu yang berbentuk dayung, dan lubang hidungnya yang berada di sisi atas moncongnya, merupakan bentuk adaptasi yang sempurna untuk kehidupan laut.

Penyu tersebar luas di samudera-samudera di seluruh dunia. Dari tujuh spesies anggota suku ini, enam di antaranya ditemukan di Indonesia. Beberapa contohnya adalah:
Penyu hijau (Chelonia mydas)
Penyu sisik (Eretmochelys imbricata)

  • Dermochelyidae, penyu belimbing

Suku penyu ini hanya memiliki satu anggota saja, yakni penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Hidup di lautan-lautan besar hingga ke daerah dingin, penyu ini merupakan kura-kura terbesar yang masih hidup. Panjang tubuhnya (panjang karapas) dapat mencapai 3 m, meski umumnya hanya sekitar 1.5 m atau kurang, dan beratnya mendekati 1 ton.

  • Chelydridae

Suku ini terdiri dari kura-kura air tawar berekor panjang dan berkepala besar, yang menyebar di Amerika. Dengan perkecualian satu marga anggotanya (Platysternon) yang menyebar di Tiongkok dan Indochina. Beberapa ahli memasukkan Platysternon ke dalam suku tersendiri, Platysternidae. Tidak ada di Indonesia.

  • Kinosternidae

Yakni suku kura-kura air tawar kecil dari Amerika bagian tengah. Hewan yang mampu mengeluarkan bau tak enak ini tidak terdapat di Indonesia.

  • Dermatemyidae

Juga menyebar terbatas di Amerika Tengah. Dermatemys berukuran relatif besar dan hidup di sungai-sungai.

  • Carettochelyidae, labi-labi moncong babi

Suku ini hanya memiliki satu anggota yang hidup, yakni labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta). Lainnya telah punah dan hanya ditemukan dalam bentuk fosil. Labi-labi ini menyebar terbatas di Papua bagian selatan dan di Australia bagian utara.

  • Trionychidae, labi-labi

Menyebar luas di Amerika utara, (Eropa ?), Afrika dan Asia, ini adalah suku labi-labi yang paling banyak jenisnya. Di Australia, suku ini hanya tinggal berupa fosil. Beberapa contohnya dari Indonesia adalah:
Bulus (Amyda cartilaginea)
Manlai alias labi-labi bintang (Chitra chitra)
Labi-labi hutan (Dogania subplana)
Labi-labi irian (Pelochelys bibroni)
Antipa, labi-labi raksasa (Pelochelys cantori)

  • Emydidae

Ini adalah suku kura-kura akuatik dan semi akuatik yang hidup di air tawar di Eropa, Asia dan terutama di Amerika. Emydidae merupakan salah satu suku kura-kura terbesar dari segi jumlah anggotanya. Tidak ada spesiesnya di Indonesia kecuali dalam bentuk hewan introduksi sebagai hewan peliharaan. Salah satu contohnya yang banyak dipelihara di Indonesia adalah kura-kura telinga merah (Trachemys scripta)

  • Geoemydidae

Merupakan suku kura-kura yang terbanyak anggotanya, Geoemydidae (dahulu disebut Bataguridae) terutama menyebar di Asia Tenggara. Di luar itu, anggota suku ini juga ditemukan di Afrika bagian utara, Erasia dan Amerika tropis. Ini adalah suku kura-kura air tawar yang terutama hidup di sungai-sungai, meskipun sering pula ditemui di daratan. Di Indonesia terdapat sekitar 11 jenisnya. Di antaranya:
Biuku (Batagur baska)
Beluku atau tuntong (Callagur borneoensis)
Kuya batok (Cuora amboinensis)

  • Testudinidae, kura-kura darat sejati

Adalah suku kura-kura darat dengan banyak anggota yang tersebar luas di seluruh dunia. Kura-kura raksasa dari Kepulauan Galapagos dan kura-kura darat berumur panjang dari Kep. Seychelles di atas termasuk ke dalam suku ini. Dua anggotanya terdapat di Indonesia:
Baning sulawesi (Indotestudo forsteni)
Baning coklat (Manouria emys)

3. Anak bangsa Paracryptodira

punah

Sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

Evolusi Kura-kura dan Penyu

Bagaimana batok kura-kura itu terbentuk dan berkembang dalam proses evolusinya, belum diperoleh keterangan yang jelas. Fosil kura-kura tertua kedua yang berasal dari Masa Trias (sekitar 210 juta tahun silam), Proganochelys, telah berbentuk mirip dengan kura-kura masa kini. Perbedaannya, tulang belulang di bagian punggung belum begitu melebar dan belum semuanya menyatu membentuk tempurung yang sempurna. Kura-kura purba hidup dan berkembang kurang lebih sejaman dengan dinosaurus. Archelon, misalnya, merupakan kura-kura raksasa yang diameter tubuhnya dapat mencapai lebih dari 4 m. Fosil kura-kura tertua yang ditemukan saat ini adalah Odontochelys yang ebrasal dari sekitar 220 juta tahun silam.

Banyak jenis kura-kura yang hidup sekarang mampu menyembunyikan kepala, kaki dan ekornya ke dalam tempurungnya, sehingga dapat menyelamatkan diri. Namun beberapa kura-kura primitif, seperti contohnya penyu, tak dapat menarik masuk anggota badannya itu.

Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan daging (karnivora) atau campuran (omnivora).

Kura-kura tidak memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.

Ukuran tubuh kura-kura bermacam-macam, ada yang kecil ada yang besar. Biasanya ditunjukkan dengan panjang karapasnya (CL, carapace length). Kura-kura terbesar adalah penyu belimbing, yang karapasnya dapat mencapai panjang 300 cm. Labi-labi terbesar adalah labi-labi irian, dengan panjang karapas sekitar 51 inci. Sementara kura-kura raksasa dari Kep. Galapagos dan Kep. Seychelles panjangnya dapat melebihi 50 inci. Sedangkan yang terkecil adalah kura-kura mini dari Afrika Selatan, yang panjang karapasnya tidak melebihi 8 cm.

Kura-kura berbiak dengan bertelur (ovipar). Sejumlah beberapa butir (pada kura-kura darat) hingga lebih dari seratus butir telur (pada beberapa jenis penyu) diletakkan setiap kali bertelur, biasanya pada lubang pasir di tepi sungai atau laut, untuk kemudian ditimbun dan dibiarkan menetas dengan bantuan panas matahari. Telur penyu menetas kurang lebih setelah dua bulan (50-70 hari) tersimpan di pasir.

Jenis kelamin anak kura-kura yang bakal lahir salah satunya ditentukan oleh suhu pasir tempat telur-telur itu tersimpan. Pada kebanyakan jenis kura-kura, suhu di atas rata-rata kebiasaan akan menghasilkan hewan betina. Dan sebaliknya, suhu di bawah rata-rata cenderung menghasilkan banyak hewan jantan.

Kura-kura termasuk salah satu jenis hewan yang berumur panjang. Reptil ini dapat hidup puluhan tahun, bahkan seekor kura-kura darat dari Kep. Seychelles tercatat hidup selama 152 tahun (1766 – 1918).

Sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

KURA - KURA DAN PENYU

Kura-kura dan penyu adalah hewan bersisik berkaki empat yang termasuk golongan reptil. Bangsa hewan yang disebut (ordo) Testudinata (atau Chelonians) ini khas dan mudah dikenali dengan adanya 'rumah' atau batok (bony shell) yang keras dan kaku.

Batok kura-kura ini terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggung disebut karapas (carapace) dan bagian bawah (ventral, perut) disebut plastron. Kemudian setiap bagiannya ini terdiri dari dua lapis. Lapis luar umumnya berupa sisik-sisik besar dan keras, dan tersusun seperti genting; sementara lapis bagian dalam berupa lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat seperti tempurung. Perkecualian terdapat pada kelompok labi-labi (Trionychoidea) dan jenis penyu belimbing, yang lapis luarnya tiada bersisik dan digantikan lapisan kulit di bagian luar tempurung tulangnya.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal tiga kelompok hewan yang termasuk bangsa ini, yalah penyu (bahasa Inggris: sea turtles), labi-labi atau bulus (freshwater turtles), dan kura-kura (tortoises). Dalam bahasa Inggris, dibedakan lagi antara kura-kura darat (land tortoises) dan kura-kura air tawar (freshwater tortoises atau terrapins).

sumber :

www.wikipedia.co.id

43 Things Tags: Satwa liar, Kura-kura, Penyu

Minggu, 03 Mei 2009

KEPUNAHAN PADA HARIMAU SUMATERA (Panthera tigris sumatrae)

  • Indonesia memiliki tiga sub spesies harimau (Panthera tigris) dari delapan subspesies yang ada di dunia.
  • Tiga sub spesies harimau dunia telah dikategorikan punah di alam dan dua subspesies di antaranya terdapat di Indonesia yaitu harimau Bali (P.t. balica) punah tahun 1930-an dan harimau Jawa (P.t. sondaica) punah tahun 1980-an (Ramono & Santiapillai 1994; Seidensticker et al. 1999).
  • Harimau sumatera (P.t. sumatrae) merupakan satu-satunya sub spesies harimau yang masih bertahan hidup di Indonesia.
  • Hasil suatu penilaian pada tahun 1992 melaporkan bahwa penyebaran populasi harimau sumatera hanya terdapat pada 26 kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya yang terpisah secara geografis yang mana jumlah populasi di alam diperkirakan tinggal 400-500 ekor (Ministry of Forestry 1994).
  • Akan tetapi saat ini, angka populasi tersebut dipastikan semakin berkurang
  • IUCN (2006) telah mengategorikan harimau sumatera dalam status "critically endangered" atau satwa langka yang kritis yaitu kategori tertinggi dari
    ancaman kepunahan.
  • Di Indonesia, pemerintah telah melindungi harimau
    sumatera yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah nomor 7 tahun 1999
    tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

    Penyebab Kepunahan

  • hilangnya habitat harimau Sumatera akibat konversi hutan
  • perburuan harimau sumatera
  • Berkurangnya spesies mangsa
  • angka kelahiran rendah,
  • Angka kematian bayi cukup tinggi,
  • Tingkat ancaman tinggi

    Upaya pelestarian yang efektif memerlukan informasi yang akurat diantaranya, yaitu :

  • ukuran populasi pada suatu wilayah,
  • distribusi geografi jenis
  • konektivitas antar kawasan,
  • aspek ekologi dan biologi spesies.

    Informasi tersebut diperlukan untuk mengetahui habitat yang sesuai, ukuran populasi dan ancaman untuk menyusun suatu strategi pelestarian jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang pada suatu kawasan.

    Solusi

  • meminimalisasi kerusakan habitat, dengan cara/ mengurangi konversi lahan
  • adanya kontrol terhadap perburuan liar dan perdagangan illegal serta mempertegas hukum tentang pelarangan perburuan liar dan perdagangan illegal terhadap harimau dan mangsanya
  • perluasan habitat, dengan membangun koridor satwa
  • Monitoring terhadap perkembangan populasi yang masih bertahan


     

    Sumber :

    Kuliah riset


     


     


 

Peranan Manusia dalam Perlindungan Hutan

Peranan manusia dalam perlindungan hutan :

  • Manusia sebagai penyebab kerusakan hutan.
  1. Pembalakan liar

    Penurunan signifikan hasil tegakan dari tahun ke tahun akibat ilegal logging

  2. Kebakaran hutan

    Manusia sebagai penyebab/pendukung tersedianya komponen kebakaran hutan

  3. Penggembalaan di dalam hutan

    - Menimbulkan kerusakan pada tanaman (kelas umur muda)

    - Mengikis hara tempat tumbuh

    - Merusak salah satu/lebih komponen ekosistem

  4. Ketidaksiapan menghadapi hama dan penyakit

    - Terjadi ledakan hama

    - Terjadi epidemi penyakit


 

  • Manusia sebagai pelaku kegiatan perlindungan hutan.
  1. . Pengambil kebijakan sektor kehutanan
  • Kebijakan dalam hama dan penyakit
  • Kebijakan dalam pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan, penggembalaan di dalam hutan, serta pembalakan liar


 

  1. . Peneliti ahli (expert researcher)

    Kontinuitas penelitian, mengingat umur tegakan hutan yang panjang


     

  2. Tenaga profesional di lapangan

    Penerapan kebijakan dan hasil penelitian untuk diaplikasikan langsung pada tanaman kehutanan


     


     

Jumat, 01 Mei 2009

DATA TAMAN NASIONAL GUNUNG MERBABU

Taman nasional adalah suatu kawasan alam yag mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi, yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Visi :

Terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem Taman Nasional Gunung Merbabu yang dapat memberikan manfaat optimal bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, social dan budaya masyarakat.

Misi :

  1. Menetapkan penataan zonasi dengan memperhatikan aspek ekologi, ekonomi, social dan budaya masyrakat sekitar kawasan.
  2. Mengoptimalkaan fungsi dan potensi SDA hayati dan ekosistem yang dapat memberikan manfaat ekonomi, social dan budaya secara lestari dan seimbang.
  3. Meningkatkan perlindungan dan keamanan serta pengendalian kebakaran kawasan untuk menjamin kelestarian SDA hayati dan ekosistemnya.
  4. Meningkatkan promosi dan informasi dalam menunjang pemanfaatan kawasan dan jenis TSL.
  5. Meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan dan pariwisata alam.
  6. Meningkatkan koordinasi, kerjasama dan kemitraan dengan berbagai pihak terkait dalam menunjang pengelolaan yang efektif dan efisien.
  7. Meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan.
  8. Meningkatkan sarana dan prasarana pengelolaan serta jumlah dan kualitas SDM.

Tugas Pokok :

Melakukan penyelenggaraan konservasi SDA H&E dan pengelolaan kawasan taman nasional berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.

Fungsi :

  1. Penataan zonasi, penyusunan rencana kegiatan, pemantauan dan evaluasi pengelolaan kawasan taman nasional.
  2. Pengelolaan taman nasional.
  3. Penyidikan, perlindungan, dan pengamanan kawasan taman nasional.
  4. Pengendalian kebakaran hutan.
  5. Promosi , informasi, dan publikasi KSDA H&E.
  6. Pengembangan bina cinta alam dan penyuluhan KSDA H&E.
  7. Kerjasama pengembangan KSDA H&E.
  8. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan.
  9. Pengembangan dan pemanfaatan jasa lingkungan dan alam.
  10. Tata usaha dan rumah tangga.

Luas Taman Nasional Gunung Merbabu 6011,7 ha menurut Surat Keputusan Menteri Kehutanan No : 135/Menhut/II/2004 tanggal 4 mei 2004 tentang perubaahan fungsi kawasan hutan lindung dan taman wisata alam pada kelompok hutan Gunung Merbabu seluas +/- 5725 ha yang terletak di kabupaten magelang, Semarang dan Boyolali Provinsi Jawa Tengah.

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dibagi menjadi 2 seksi Pengelolaan Taman Nasional (STPN) :

  • STPN Wilayah I Kopeng ( Kab. Semarang dan Kab. Boyolali )
  • STPN Wilayah II Krogowanan ( Kab. Magelang )

Ekosistem dan Flora

Tipe Ekosistem/Habitat :

  • Tipe hutan pegunungan bawah (1000-1500 mdpl)
  • Tipe hutan pegunungan atas ( 1500 – 2400 mdpl )
  • Tipe hutan pegunungan sub alpin ( 2400 – 3142 mdpl)

Flora

  • Acacia decuren, pinus, bintami, puspa.

Fauna :

  • Macan Tutul, musang, kijang, monyet ekor panjang, lutung abu/rekrekan, bajing, dan kucing hitam.

Aves :

  • Elang hitam, kacamata gunung, anis gunung, bentet kelabu, caladi ulam, srigunting kelabu, sepah gunung, cekakak jawa, tekukur biasa, kipasan ekor merah.

Wisata Alam :

  • TWA tuk songo.
  • Ketep pass
  • Wisata budaya kuda lumping, jathilan, dll.
  • Tracking Gunung Merbabu ( Ds Tekelan, Ds Cuntel, Ds wekas, Ds selo, Ds Sandisari ).
  • Camping ground.

Hidrologi :

Taman Nasional Gunung Merbabu merupakan daerah penyangga kehidupan yang penting bagi kawasan di bawahnya dan merupakan daerah tangkapan air. Terdapat beberapa sumber air di kawasan Gunung Merbabu yaitu

  1. DAS Serayu,opak, progo ( mata air kelantang, mata air kawah banyu kuning, air terjun teyeng ).
  2. DAS Permali jratun.

Permasalahan yang ditemui di Taman Nasional Gunung Merbabu :

  1. Adanya pencurian SDA (kayu, pasir, pakis dan tanaman hias )
  2. Adanya bencana alam (kebakaran hutan, tanah longsor)
  3. Adanya perambahan untuk budidaya pertanian.
  4. Tanda batas dan zonasi yang belum selesai
  5. Ketergantungan masyarakat yang tinggi.
  6. Sumber air yang semakin berkurang.
  7. Masih ada perburuan satwa.
  8. Pendakian yang tak terorganisir.
  9. Penutupan lahan dan vegetasi yang rendah.
  10. Minimnya sarana dan prasarana.
  11. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap taman national.
  12. Adanya enclave dan fragmentasi.
  13. Masih adanya kegiatan pengambilan getah di taman nasional.

Kegiatan :

  • Inventarisasi aves
  • Pembuatan jalur patroli
  • Penanaman jalur hijau
  • Pembentukan dan training MPA.
  • Sentra penyuluhan kehutanan pedesaan.
  • Pembuatan leaflet TN.
  • Operasi pengamanan kawasan.
  • Pembinaan dan pengawasan pendakian
  • Survey habitat satwa
  • Pembuatan banner dan leaflet
  • Sosialisasi taman nasional.


 


 

SUMBER : handout NN